Sudah usai sebelum dimulai, dan sepenuhnya abadi, tanpa diucapkan sama sekali. - Sapardi Djoko Damono.
Bukan koma, apalagi titik. Belum dapat ku akhiri kalimat ini karena beribu tanya masih menggelitik. Detik ini pun aku masih bertanya. Seperti akhir perbincangan kita malam itu, tanyaku berkali dan kau tetap abaikan. Membiarkan dugaku mengganggu dan tanya tentangmu tak pernah padam.
Aku pun juga ikuti arus. Namun arahnya kini tak mempertemukan kita. Kini kau berlayar dengan pesiar pujaanmu. Sementara aku masih dengan sampan tua dan dayung keropos milikku. Tak bertemu. Aku kelu.
Apa yang terlihat terkadang tak seperti yang diharap. Aku paham itu. Maka sedikit harapku aku kikis. Yang baru kembali kurasa aku tepis. Jika maumu aku tak kan menunggu.
Seperti kutipan dan lagu diatas. Aku kini pongah. Jengah. Saat ku kerecutkan pandangan, kedua tangan tak saling bertepuk bertemu.
Tak apa akhiri saja kegamanganmu. Tersenyumlah dengan rona terbaikmu. Jangan lagi kau tutupi dengan sweater abu-abumu. Kini harus aku telan benar-benar kala cinta tak harus memiliki. Meski tak pernah aku sepaham dengan konsep itu.
Tanda tanyaku terjawab meski tanpa kau jelaskan musabab. Dan harus aku akhiri dengan tanda apa semua bait ini?