Saturday, November 16, 2013

PERSIMPANGAN

Saya memang sedang berada di persimpangan
Persimpangan yang mebuat saya berhenti sejenak
Melangkah hati-hati
Antara kerikil dan benalu yang amat biasa untuk ada

Saya berpangku pada Sang pemberi kekuatan
Tak sekedar satu dua beban teremban
Hingga ragu pun berpadu
Pada diri yang memaksa senyum melagu

Friday, October 25, 2013

Tanda Tanya

Sudah usai sebelum dimulai, dan sepenuhnya abadi, tanpa diucapkan sama sekali. - Sapardi Djoko Damono.




Bukan koma, apalagi titik. Belum dapat ku akhiri kalimat ini karena beribu tanya masih menggelitik. Detik ini pun aku masih bertanya. Seperti akhir perbincangan kita malam itu, tanyaku berkali dan kau tetap abaikan. Membiarkan dugaku mengganggu dan tanya tentangmu tak pernah padam.

Aku pun juga ikuti arus. Namun arahnya kini tak mempertemukan kita. Kini kau berlayar dengan pesiar pujaanmu. Sementara aku masih dengan sampan tua dan dayung keropos milikku. Tak bertemu. Aku kelu.

Apa yang terlihat terkadang tak seperti yang diharap. Aku paham itu. Maka sedikit harapku aku kikis. Yang baru kembali kurasa aku tepis. Jika maumu aku tak kan menunggu.

Seperti kutipan dan lagu diatas. Aku kini pongah. Jengah. Saat ku kerecutkan pandangan, kedua tangan tak saling bertepuk bertemu.

Tak apa akhiri saja kegamanganmu. Tersenyumlah dengan rona terbaikmu. Jangan lagi kau tutupi dengan sweater abu-abumu. Kini harus aku telan benar-benar kala cinta tak harus memiliki. Meski tak pernah aku sepaham dengan konsep itu.

Tanda tanyaku terjawab meski tanpa kau jelaskan musabab. Dan harus aku akhiri dengan tanda apa semua bait ini?

Sunday, October 6, 2013

Act Like A Gentleman

Biarkan mereka menertawakan tampak luar saya, sementara saya akan tetap fokus memperbaiki diri serta menguatkan prinsip dan karakter. Bila wanita memiliki inner beauty, maka pria juga bisa memiliki ketampanan yang akan terpancar dari dalam dirinya.

Karena ucapan membual tak lagi dibutuhkan, perangai yang akan jadi panutan. Setiap pria dilahirkan punya hasrat tuk melindungi. Meski dengan caranya yang berbeda.

Saya belajar bagaimana menjaga amanah. Memberikan sedikit sentuhan kelembutan. Saya paham betul apa yang di inginkan dan bagaimana harus lakukan. Diam atau bertindak dengan pertimbangan. Saya terus menguatkan prinsip kehidupan sebagai landasan melangkah. Logika dan intusi terselaraskan.

Bila waktunya tiba nanti, waktu saya akan menjadi seorang yang berdiri selangkah didepan wanita yang mempercayakan saya sebagai penuntunnya. Saya ingin menuntunnya ke tempat yang memang benar ingin dituju. Atas nama-Nya. Sederhana. Jika tidak mampu membuatnya tertawa, maka cukuplah untuk membuatnya tidak terluka.

Meski jauh, ketika mereka terus asyik berceloteh cekikikan, saya tentukan apa-apa yang menjadi angan-angan. Tekad dan hati besar untuk wujudkan. Teruslah menyinyir, sementara saya akan tetap menikmati segala prosesnya dan memantaskan diri. Hingga segala yang hakiki tiba.

Sampai pada saatnya, saat saya harus berterima kasih kepada mereka yang telah 'membangun' saya. Saya yang akan jadi jauh lebih baik dari ini.

Friday, October 4, 2013

Aku Merasakannya Kembali

Aku merasakannya kembali

Saat waktu menjadi masa

Dan yang awam menjadi biasa

Aku mengenalinya lagi

Lewat degupan kencang

Dan antara kedua bola mata yang saling menatap

Ia tak pernah dusta

Meski aku pernah mengikisnya

Aku mengungkapkannya lewat tawa

Yang keluar begitu lepas

Dekat meski ada batas

Yang lebih seru lagi

Saat semua masih misteri

Mesti aku mengartikan dan menahan

Saturday, August 31, 2013

FRIEND-ING, TRAVEL-SHIP!

Ada makna lain dibalik sebuah perjalanan. Bukan sekedar menempuh perjalanan pulang pergi berkilo-kilometer. Bukan juga hanya untuk penghilang penat atau pengisi waktu luang. Saya percaya dibalik itu jika kita resapi ada sebuah makna yang bisa dipelajari.

Sepakat dengan mereka yang mengatakan di setiap perjalanan, bukan soal kemana kita pergi, melainkan dengan siapa kita pergi. Terbukti sudah untuk kesekian kalinya saya mengunjungi Jogja, dan kali ini mungkin menjadi yang paling berkesan.

Perjalanan singkat saya minggu lalu dengan beberapa kawan, menjelaskan banyak memoar yang terlukis dalam ramainya suasana kota malam hari, dinginnya udara gunung yang bersembunyi di balik awan, terbawa dalam aliran sungai yang dangkal dan tenang, lalu terangkai dalam gelapnya lorong goa yang terpatri indahnya stalaktit dan stalakmit serta terhias dalam gundukan pasir putih pantai bernadakan ombak yang berdesir-desir.

De Javu!
Saya pernah punya kenangan macam ini. Perjalanan jauh, dengan teman, dan memberikan cerita yang tak terlupakan hingga kini. Namun, kali ini saya terjun langsung untuk merencanakan dan mengurus segala sesuatunya. Perjalanan tamasya ini penuh dengan rasa kebersamaan, keintiman, keterbukaan untuk saling menceritakan, guyon, dan narsistik khas anak muda. Terlebih hamparan kekayaan alam yang Tuhan berikan pada negeri ini untuk kami tengok, jelajahi, arungi, dan resapi. Menambah cinta akan negeri sendiri. Kami menjadi lebih mengenal satu sama lain. Menguatkan temali atas nama persahabatan. 

Ah.. Syukur pada Tuhan yang selalu menghadirkan sekumpulan orang yang kerap memberi tawa-yang biasa mereka sebut sahabat-dalam setiap fase dalam hidup saya. Beginilah cara kita menikmati hidup, dengan kawan sepermainan, menikmati perjalanan, yang setiap jengkalnya penuh kenangan.

WHERE DO WE WANNA GO NEXT, GUUUUYYYSSSS????????

Friday, July 5, 2013

BERKATA


Tinta. Warna nila.

Buta. Tak menangkap nyala.

Satu cerita. Antara gelora dan rela.

Yang jelita. Hadir di sela.

Menggurita. Isi kepala.

Sederet pinta. Merajalela.

Terbata. Di setiap hela.

Merahasia kata. Diri di cela.

Sendiri derita. Menjauh kala.

Cinta. Meski tiada membela

Saturday, May 18, 2013

'Intuitive' is My Middle Name



Akhir-akhir ini, saya menjadi lebih perasa. Lebih banyak berimajinasi, merefleksikan diri, menggunakan apa-apa yang bersumber dari naluri dan hati sendiri. Berpikir dengan hati. Menggunakan firasat dan fantasi. Serta, bertindak melalui pertimbangan-pertimbangan yang tak mampu terlihat inderawi. Melihat jauh ke depan dengan visi. Bukan halusinasi apalagi ilusi. Saat ke-Introvert-an saya makin menahun semakin berkurang kadarnya, sementara lain halnya dengan sisi Intuition saya  yang justru semakin menjadi.

Kadang otak saya membuat pertanyaan sendiri tentang suatu hal, dan beberapa saat kemudian otak saya sendiri juga yang berpikir menemukan jawabannya. Saya bisa tahu walau tanpa ada yang memberi tahu. Seakan antara hati dan otak terdapat satu tali yang menghubungkan keduanya hingga mampu bekerja secara padu dan simetris. Menangkap tanda-tanda alamiah dengan rasa peka yang akan menjadikannya sebuah jawaban atas sebuah pertanyaan.

Otomatis merasakan apa yang ditunjukkan alam, lalu memikirkannya kemudian mengartikannya.  Menemukan arti dan makna dari apa yang selama ini terjadi. Meski terkadang tidak mengenakkan dan terkadang pula menyiksa hati. Entah ini suatu kelebihan, anugerah atau kebetulan semata, tetapi apapun namanya ini tetap bagai memakan buah simalakama!

Kemampuan intuisi adalah sifat alami manusia, setiap individu mampu memiliki dan pernah mengalaminya, namun hanya tingkatan kemampuannya saja yang berbeda-beda. Intuisi sendiri termasuk kemampuan psikis, sifatnya personal, partikular, kadang tak logis.

Tidak semua masalah dapat dijelaskan secara logis. Meski kadang terasa ironis karena sering terkungkung dalam misteri-misteri belum terjawab yang menggelayut. Menghantui pikiran. Menghantui perasaan. 

Saya percaya, dengan intuisi saya mampu untuk menggerakkan pengalaman-pengalaman, melatih kepekaan dengan melihat apa yang masih menjadi abu-abu, dan alam semesta  akan membawa hasrat yang saya inginkan dan jika waktunya sudah tepat, impian tersebut akan terwujud. Sebut sajalah ini kelebihan, dan saya patut bersyukur akan hal ini.


Cognitio Intuitiva!

Malam Ini

Ada rindu dibalik lembaran buku

Rentetan huruf demi hurufnya mengejakan rasa

Melukis gambaran sekejap khayal

Helaiannya meniup mengacau imajinasi


Malam ini kejam

Desir anginnya menusuk belulang

Memendam tiada melahirkan kata

Yang tertahan di langit-langit tenggorokan


Bintang-bintang merayu

Namun sibuk dengan kisahnya sendiri

Mengabaikan para pejuang hati

Menepi menanti


Sesungguhnya ini misteri

Misteri tentang rasa

Menantang nyali

Untuk meraba hati

Saturday, May 4, 2013

Mencipta perangai berbudi, santun, dan menyeru kebaikan

Agar sebuah nama tetap hidup dan terkenang berlintas zaman

Tentu Tuhan mencipta dan memberi kehidupan pada hambaNya dengan penuh maksud

Dengan skenario dan alur berliku yang akan tetap berujung pada suatu hal..

Keindahan yang kadang manusianya tak mudah sadari

Mengeluh dan merintih terlebih dahulu baru setelah itu percaya

Kadang harus melalui ujiannya terlebih dahulu

Baru setelah itu mampu memetik hikmahnya

Percuma memohon dan balik memohon untuk hidup tanpa mereka

Dan percuma untuk mengharap mereka mengerti dan menerima

Bagaimana kita, kita yang tentukan

Saya hanya ingin menjadi orang baik

Yang menurut saya baik dan menurut mereka baik.

Wednesday, January 30, 2013

MUSIC, THE SOUNDTRACK OF LIFE


Bicara soal musik, gue adalah salah satu dari sekian banyak penikmat musik didunia ini. Meskipun nggak bisa memainkan alat musik atau pun menyanyikan sebuah lagu dengan baik dengan benar, tapi buat gue musik ibarat lagu pengiring di setiap adegan-adegan kejadian di kehidupan dari skenario buatan sutradara terbaik sepanjang masa... siapa lagi kalo bukan Tuhan.

Di mulai dari masa kecil, gue seneng nyanyiin lagu anak-anak karya A.T Mahmud, Ibu Kasur, atau Ibu Soed. Dari sekian banyak lagu anak-anak gue paling suka Ambilkan Bulan-nya A.T Mahmud yang punya nilai kenangan tersendiri. Lewat usia balita, gue masih dengerin lagu anak-anak dari kaset Trio Kwek-Kwek, Chikita Meidy, Joshua sampe Sherina yang dibeliin bokap nyokap. Beruntung waktu gue kecil masih ngehits tuh lagu anak-anak, nggak kayak sekarang anak masih kecil dengerinnya lagu dewasa cinta-cintaan. Di akhir masa SD, mulai agak sok sedikit dengerin lagu grup band yang mulai hits di masa itu. Sheila On 7, Padi, Dewa 19 sampe band yang udah vacum nggak jelas nasibnya sekarang kayak Base Jam, Wayang, bahkan Jamrud. Lagu-lagunya yang ngehits seperti Sephia, Kasih Tak Sampai, Angin, Bukan Pujangga atau Waktuku Mandi.

Naik ke masa-masa SMP, era grup band masih ngetrend dikala itu. Di masa SMP inilah khasanah perbendaharaan musik gue bertambah banyak, ngederin musik dari berbagai genre dari penyanyi-penyanyi dalam dan luar negeri. SMA nggak jauh beda dari SMP, tapi mungkin di masa inilah gue mulai stick sama genre musik dan penyanyi tertentu.

Sebenernya sih gue suka berbagai jenis musik, tapi lebih cenderung suka ke pop dan jazz yang sesuai sama selera dan kepribadian sendiri. Nggak mau ikut-ikut gaya-gayaan dengerin musik hardrock, heavy metal atau death metal kayak anak gaul zaman sekarang. Gue juga lebih cenderung suka sama lagunya, bukan penyanyinya, Kangen Band sekalipun kalo emang lagunya enak menurut gue ya gue bakal suka. Tapi ada beberapa penyanyi atau band seperti Maliq d’Essentials, Sheila On 7, Bruno Mars, Maroon 5, Katy Perry, dan Adele yang hampir seluruh lagu-lagunya bikin gue takjub ngedengernya. Ya ini kan cuma masalah selera, suka atau nggak suka, ngefans atau nggak ngefans.

Banyak orang suka sama satu lagu karena emang lagu itu cocok sama suasana hati atau apa yang dia lagi rasain. Begitu pun gue. Seperti alunan jazzy Terdiam-nya Maliq d ‘Essentials yang cozzy itu cocok sama gue yang mulai ngelirik-lirik pengen kenalan tapi nggak berani sama cewek waktu kelas 1 SMP. That’s What Friends Are For, You’ve Got A Friend bahkan Kepompong-nya Sindentosca, iringan lagunya ngingetin gue sama temen-temen. Lagu gue waktu falling in love juga ada.. hehe.. Sampai Kapan-Maliq d’Essentials dan Friday I’m In Love-The Cure dua diantara lagu-lagu asmara yang bikin gue berbunga-bunga. Waktu galau akibat putus cinta juga banyak, apalagi lagu-lagu Indonesia, tapi yang paling bikin mengiris hati adalah lagu-lagunya Secondhand Serenade yang jadi tolak ukur tingkat kegalauan. Dulu bisa banget kebawa suasana akibat lagu-lagu itu, tapi sekarang dengerinnya aja udah nggak enak.

Lagu disaat down atau lagu yang bikin semangat juga banyak, misalnya Today My Life Begins-Bruno Mars, I Have A Dream-Westlife, atau Ku Yakin Sampai Disana ciptaan Presiden SBY yang dinyanyiin Rio Febrian. Rata-rata sih lagu yang bertempo cepat. Tapi Laskar Pelangi dari Nidji juga punya kenangan tertentu. Yang ngingetin keisengan gue juga ada, waktu kelas 2 SMA, gue sama seorang temen, iseng bluetooth diem-diem lagu dangdut yang judulnya Bete dari MMG(Manis Manja Group) ke semua hp temen sekelas. Alhasil, besoknya mereka semua kaget karena tiba-tiba ada satu lagu aneh di playlist musik hp mereka..hahaha.. Gara-gara itu gue jadi diidentikkan suka sama musik dangdut sampe pas nyokap ngambil raport, wali kelas gue pernah nanya, “Bu, emang Angga kalo di rumah suka sama dangdut?”. Padahal sih bener suka.... eh nggak lah.. hahaha.. Sebuah lagu emang bisa jadi alat untuk me-retrieve memori-memori yang ada di ingatan seseorang.

Sementara itu, waktu gue masih kecil, bokap sering nyetel kaset-kaset koleksinya di radio yang akhirnya sekaramg gue jadi tau dan hafal beberapa lagu-lagu lawas itu. Mulai dari The Beattles, Deep Purple, Scorpion sampe Koes Plus atau Panbers. Mulai dari I Wanna Hold Your Hand, Right Here Waiting, Endless Love sampe Gereja Tua.

Musik, sama halnya warna di dunia, bayangkann kalo dunia ini tanpa musik gimana jadinya? Musik juga bisa mempengaruhi suasana hati, pemikiran, atau kepribadian seseorang bahkan bisa merubah kondisi suatu bangsa. Alunan nada-nada dan irama indah serta lirik-lirik yang menyentuh hasil karya para penciptanya. Anugerah Tuhan yang patut disyukuri, bisa kita dengar dan nikmati, karena sebagian dari kita tak pernah mampu mengenali bagaimana harmoni nada-nada dari setiap alunan musik di dunia.