Bersama
ratusan kendaraan lain yang tengah merayap dan jutaan orang yang melawan rasa
bosan dan stressor-stressor pengganggu pikiran untuk sama-sama menuju satu
tujuan.. rumah.
Bagi
warga jakarta pastilah sudah merasa akrab dengan kondisi seperti ini.
Menghabiskan waktu berjam-jam saat berangkat memulai aktivitas di pagi hari dan
pulang diwaktu sore. Belum lagi saat hujan lebat, genangan air yang menyumbat
dan pohon yang tumbang memperparah lalu lintas ibukota.
Gubernur
silih berganti, namun masalah ini belum bisa teratasi. Berbagai solusi
dicanangkan, namun hingga sekarang belum terselesaikan. Jumlah penduduk yang
tidak sesuai dengan luas wilayah, jumlah kendaraan yang tidak sesaui dengan luas
jalanannya, masih buruknya sistem transportasi publik dan sistem drainase
menjadi beberapa penyebab. Tapi ada satu hal yang paling penting, yaitu
kedisiplinan warga Jakarta yang dirasa masih rendah. Bisa dikatakan, kita bisa
melihat ketidakdisiplinan dan keegoisan warga jakarta ya dijalanannya. Jadi, kapan
macet di ibukota ini akan selesai?
Bayangkan
betapa stressnya warga jakarta jika harus selalu berada dalam kemacaten setiap
harinya. Anehnya, entah kenapa pula masih banyak warga dari daerah yang berdatangan
untuk mencari nafkah ke kota yang
dulunya bernama Batavia ini? Magnet apa yang tetap menarik mereka untuk memutuskan
tinggal di ibukota dan membiarkan desanya sepi tak berpenghuni? Padahal jakarta
tidak semanis dan seindah yang dibayangkan, bahkan ada yang mengatakan, Jakarta
keras, Bung!
Jika
warga dari daerah berbondong-bondong mengadu nasib di jakarta, lalu bagaimana
nasib desa-desa asal yang mereka tinggalkan?
Saya
bermimpi suatu saat dapat menghabiskan hidup di pelosok desa nusantara. Jauh
dari hiruk pikuk keramaian kota metropolitan, kesibukan dan hedonitas orang
kota dan pemandangan hutan beton yang menjulang tinggi seperti jakarta. Saya
ingin memiliki rumah dengan pemandangan sekeliling pepohonan atau permadani
hijau yang menyejukkan suasana hati. Berinteraksi dengan burung-burung yang
bertebangan serta kabut dan embun yang menetes di pagi hari. Hidup tenang,
nyaman, dan damai tanpa harus tertekan oleh kemacetan.
Jika
warga desa mulai meninggalkan profesi mereka sebagai petani, saya justru ingin
menjadi seorang petani yang memiliki sawah luas, berkebun, atau beternak hewan.
Di saat negeri ini harus mengimpor beras, gandum, kedelai bahkan hewan sapi
dari negara lain. Di saat sudah seharusnya ada pemerataan pembangunan yang
harus dilakukan pemerintah agar kota tidak semakin padat dan desa tidak menjadi
sepi ditinggal anak mudanya. Saya bemimipi menghidupkan kembali desa dan memiliki kehidupan yang lebih baik serta berhasil di tanah air, Indonesia.











