Thursday, February 27, 2014

Antara Fajar dan Senja, Kau Lebih Suka Mana?

Kenapa mereka lebih menyukai senja, sementara fajar lebih memberi ketenangan dan pengharapan?

Fajar. Hidup setiap manusia dimulai dari sini. Sunyinya menyentuh kalbu di antara sujud-sujud khusyuk mereka yang mulai terjaga dari lelapnya. Tetesan embun di dedaunan, nyanyian burung berkicau dan kokokan ayam jantan saling bersautan membentuk sebuah harmonisasi pertanda harap para pejuang asa. Gurau-gurau kecil di sudut meja makan memberi keriangan sebelum menapakkan langkah pertama keluar pintu untuk mengawali hari. Sapaan sana sini kepada sekitar bagai menambah dukungan kesiapan untuk menyambut misterinya hari. Saat inilah semua harapan bisa dipenuhi. Gelap berganti sinar hangat sang mentari. Sunyi suasana berganti hiruk pikuk penuh ambisi. Bintang dan bulan kembali ke peraduan. Jiwa-jiwa yang hilang asanya kembali tergugah mewujdukan harapan. Semesta pun mendukung, semangat bergejolak timbul dari dalam diri para pejuang mimpi.

Senja. Warna jingga kemerahan memberi kehangatan bagi jiwa yang riuh rendah mengikuti geliatnya hari. Titik tenggelamnya surya jelas kilaunya di ufuk barat cakrawala sana. Sosok-sosok perindu menikmati saatnya. Mereka berbondong-bondong mencari spot terbaik untuk menyaksikan detik-detik pelepasan itu. Bersama riak gulungan ombak atau tinggi tonggak pencakar langit. Seakan tak rela sinarnya sirna menjadi temaram. Senja nan syahdu mampu menentramkan raga-raga yang tlah berderu pelu memperjuangkan mimpinya sepanjang hari. Mereka bergerak menuju tempat yang sama, tempat pengaduan keluh dan pengahapus kesah. Tempat mereka mengawali pagi sebelumnya. Lembayung mega nan romantis membuat sepasang insan penuh cinta berdiri dibawahnya, mengabadikannya, dan mungkin pula mengikat janji dengan disaksikan cahayanya.


Fajar dan senja. Keduanya memiliki kesamaan, keduanya merupakan waktu peralihan yang jika diresapi adalah waktu yang tepat untuk merangkai segala mimpi dan merenungi pencapaiannya. Meski keduanya hadir setiap hari, namun munculnya hanya sebentar. Sementara esok masih misteri, maka banyak jiwa-jiwa yang hadir merindunya. Antara fajar dan senja, kau lebih suka mana?

Saturday, February 1, 2014

Surat terbuka ini saya tujukan bagi Anda...

Untuk Anda yang mengaku lebih paham mengenai urusan hati, salut saya apada awalnya ketika Anda dengan besar hati mengungkapakan dan ingin mengorbankan perasaan yang Anda miliki. Tapi seiring bergulirnya waktu, secepat itu pula Anda mengubah pikiran serta kata-kata heroik yang pernah Anda ucapkan mulai tak senada dengan kenyataan yang Anda lakukan. Mungkin Anda lupa kalau cinta tumbuh karena biasa, ada proses pendekatan namanya saat sepasang insan memulai hubungan. Pada saat inilah dua individu yang tak saling kenal menjadi kenal dan mengubah rasa yang tadinya tak ada menjadi ada. Entah Anda lupa atau saking pahamnya Anda, hingga tanpa lagi menghiraukan proses tersebut keinginan Anda akan dengan mudah terwujud. Yang terpenting bagi Anda mungkin mengungkapkan. Hingga tak peduli berapa kali Anda mengungkapkan. Dan tak peduli perasaan siapa yang anda main-mainkan.

Untuk Anda yang mengaku lebih paham mengenai urusan hati hingga meminta percayakan semuanya pada Anda, pasti Anda sudahlah sangat teramat paham kalau kepercayaan itu mahal harganya, kan? Tetapi mungkin bagi Anda yang sudah lebih paham, mudah saja untuk mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Begitu mudahnya hingga sering kali Anda berujar pada suatu waktu dan beberapa saat kemudian Anda sendiri yang melanggarnya.

Untuk Anda yang mengaku lebih paham mengenai urusan hati, maaf jika saya memilih diam dan mendiamkan. Inilah keputusan yang saya ambil saat kata-kata sudah banyak dikeluarkan dan tak menyelesaikan. Bagi Anda kata “Tidak” saja tidak cukup, penjelasan panjang lebar pun masih kurang untuk menghadapi kenyataan yang ada. Saya sebenarnya hanya lelah. Lelah karena harus terus-menerus dan berulang-ulang membahas hal yang sama, yang sudah sama-sama saling tahu jawabannya. Lelah telah memberikan kepercayaan kepada Anda yang menganggap enteng janji-janji dan perkataan yang diucapkan. Ya, tapi Anda melakukan semua itu kan karena memang sudah lebih paham mengenai urusan hati, jadi saya mungkin harus mafhum adanya.

Tetapi sedalam apapun Anda paham mengenai urusan hati, sudah hukum alam jika setiap hal yang kita lakukan memiliki konsekuensi yang mengiringinya. Dan dengan rendah hati jika boleh saya mengingatkan, tak akan baik jikalah kita memaksakan sesuatu dan bahwa kepercayaan yang diberikan orang lain tak semudah yang anda pikirkan. Semua bisa berdalih kita hanyalah manusia, tetapi yang jelas seseorang baru bisa dikatakan belajar jika adanya perubahan perilaku yang terlihat didirinya. Dan sekarang saya hanya mengharapkan yang terbaik bagi Anda, yang mengaku lebih paham mengenai urusan hati.