Ada tempat yang selalu akan kita tuju setelah berjalan ribuan
langkah atau ratusan ribu kilometer. Tempat yang mungkin akan kita rindu meski
tlah merantau gugusan pulau. Siapa pun atau setinggi dan sehebat apapun. Tempat
yang mungkin tak seindah tempat-tempat diluar sana. Tempat yang seringkali orang
bosan berada di dalamnya. Tapi tempat ini begitu syahdu akan segala memoarnya. Ini
kisah tentang sebuah tempat dan sebuah rindu untuk bersegera pulang.
Rumah saya tak seluas rumah kalian. Luasnya dapat dihitung hanya
dengan jengkal dan dijelajahi dengan bereberapa langkah saja. Berhimpitan dengan
rumah sebelah kiri kanan, layaknya perumahan di kota-kota padat. Dindingnya tak
sekokoh dinding beton. Tak ada pepohonan di halaman depan atau belakang. Rumah
saya panas. Catnya pun hampir pudar. Di balik itu semua, ada sentuhan kasih
sayang tulus antara seisi penghuni rumah. Kehangatan terasa karena cinta yang
terjalin. Lelah karena menjalankan aktivitas terbayar saat menginjakkan kaki,
memasuki ruangannya dan melihat tatapan sambuatan penuh hangat Ibu, Bapak, atau
Adik. Diskusi singkat dan gurauan kecil di depan tv pencair suasana. Segala cerita
berbeda menjadi seirama. Tempat rehat dari segala kehiruk-pikukan hari. Seisi penghuninya,
pelipur lara dan penggugah semangat diri.
Bagi saya rumah merupakan tempat paling nyaman diantara
tempat-tempat lain yang menawarkan kenyamanan. Tempat meluruhkan lelah, tempat
mengadu saat dalam masalah. Saya merasa aman berlindung dibawah atapnya. Tempat
saya menjadi apa adanya dan tempat yang bisa menerima saya apa adanya. Tak ada
pandangan sebelah mata atau ucapan pengacau telinga. Tempat saya diajarkan
cinta, tempat saya berbagi cerita. Begitu damai, begitu setia. Tidak heran
banyak orang diluar sana yang rela berjuang bertahan dalam kemacetan hanya
untuk pulang, bercengkrama dengan sanak keluarga sekedar beristirahat menghilangkan
penat. Di rumah, saya mulai merangkai mimpi-mimpi dan mengikrarkan lapisan tekad
untuk mewujudkannya. Tempat merajut asa kembali untuk bangkit dari suatu kegagalan.
Sebuah saksi hidup. Menjadi saksi bisu yang setiap sudut ruangannya
menceritakan kisah-kisah perjalanan. Saya tertawa, saya haru, saya marah, saya
belajar, saya bercerita, saya menghabiskan waktu saya dan saya melewati hidup
saya, disini.
Rumah, tempat kita berpulang di dunia. Tak ada salahnya kita
menjadikannya ‘surga’ bagi diri dan hidup kita sendiri. Sebelum kita akan benar-benar
berpulang ke surga yang sebenarnya.