Saturday, March 22, 2014

Surga itu, Rumah.

Ada tempat yang selalu akan kita tuju setelah berjalan ribuan langkah atau ratusan ribu kilometer. Tempat yang mungkin akan kita rindu meski tlah merantau gugusan pulau. Siapa pun atau setinggi dan sehebat apapun. Tempat yang mungkin tak seindah tempat-tempat diluar sana. Tempat yang seringkali orang bosan berada di dalamnya. Tapi tempat ini begitu syahdu akan segala memoarnya. Ini kisah tentang sebuah tempat dan sebuah rindu untuk bersegera pulang.

Rumah saya tak seluas rumah kalian. Luasnya dapat dihitung hanya dengan jengkal dan dijelajahi dengan bereberapa langkah saja. Berhimpitan dengan rumah sebelah kiri kanan, layaknya perumahan di kota-kota padat. Dindingnya tak sekokoh dinding beton. Tak ada pepohonan di halaman depan atau belakang. Rumah saya panas. Catnya pun hampir pudar. Di balik itu semua, ada sentuhan kasih sayang tulus antara seisi penghuni rumah. Kehangatan terasa karena cinta yang terjalin. Lelah karena menjalankan aktivitas terbayar saat menginjakkan kaki, memasuki ruangannya dan melihat tatapan sambuatan penuh hangat Ibu, Bapak, atau Adik. Diskusi singkat dan gurauan kecil di depan tv pencair suasana. Segala cerita berbeda menjadi seirama. Tempat rehat dari segala kehiruk-pikukan hari. Seisi penghuninya, pelipur lara dan penggugah semangat diri.


Bagi saya rumah merupakan tempat paling nyaman diantara tempat-tempat lain yang menawarkan kenyamanan. Tempat meluruhkan lelah, tempat mengadu saat dalam masalah. Saya merasa aman berlindung dibawah atapnya. Tempat saya menjadi apa adanya dan tempat yang bisa menerima saya apa adanya. Tak ada pandangan sebelah mata atau ucapan pengacau telinga. Tempat saya diajarkan cinta, tempat saya berbagi cerita. Begitu damai, begitu setia. Tidak heran banyak orang diluar sana yang rela berjuang bertahan dalam kemacetan hanya untuk pulang, bercengkrama dengan sanak keluarga sekedar beristirahat menghilangkan penat. Di rumah, saya mulai merangkai mimpi-mimpi dan mengikrarkan lapisan tekad untuk mewujudkannya. Tempat merajut asa kembali untuk bangkit dari suatu kegagalan. Sebuah saksi hidup. Menjadi saksi bisu yang setiap sudut ruangannya menceritakan kisah-kisah perjalanan. Saya tertawa, saya haru, saya marah, saya belajar, saya bercerita, saya menghabiskan waktu saya dan saya melewati hidup saya, disini.


Rumah, tempat kita berpulang di dunia. Tak ada salahnya kita menjadikannya ‘surga’ bagi diri dan hidup kita sendiri. Sebelum kita akan benar-benar berpulang ke surga yang sebenarnya.

Saturday, March 8, 2014

Jam Dinding

Bulat tiga ratus enam puluh derajat
Tergantung menempel di dinding bercat
Pukul dua belas tepat
Dalam ruangan hening hikmat

Jam dinding
Yang menunjuk dan mengingatkan
Meski hidupnya perlu bantuan

Bergerak meski tak akan pernah mampu berlari
Maka detik berikutnya adalah misteri
Berputar meski tak akan pernah mundur ke belakang
Maka menit yang tlah lalu hanyalah untuk dikenang

Puja puji kepada Ia yang menggerakkan
Milyaran denting jarumnya menunjukkan waktu
yang akan terus berputar
Waktu dimana aku berdiri hingga kini
Mengenang menit yang tlah lalu
Dan bertanya akan detik berikutnya