Sunday, September 2, 2012

Ada Apa Dengan Negeriku?

Akhir-akhir ini, di negara tempat saya dilahirkan-dan tercinta ini-Indonesia, banyak tragedi yang terjadi atas nama kekerasan. Aksi kekerasan dengan cara merusak, menyerang, membakar, bahkan membunuh terjadi seolah tidak ada hukum dan aparat pengamanan di negeri ini.

Di Sampang, Madura, sekelompok orang menyerang bahkan membakar rumah-rumah warga sebagai serangan terhadap kelompok ajaran Syiah yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam. Terlepas dari memang adanya perbedaan paham antara ajaran Islam yang murni dengan Islam kaum Syiah, kasus ini sebenarnya lebih dikarenakan kasus kriminal murni yang disebabkan kepentingan pribadi. Perebutan kekuasaan atau persaingan untuk menjadi orang yang berpengaruh di daerah sana terjadi bakan masih antara satu keluarga.

Kasus kekerasan juga terjadi di Solo, kota yang tadinya rukun, damai, dan tentram-tentram saja, tapi berubah mencekam setelah terjadi 3 teror penembakan misterius yang menyerang instansi kepolisian disana dalam waktu sebulan. Banyak yang berspekulasi tentang siapa dan apa motif dibalik teror tersebut, tapi perkembangan terakhir, pelakunya merupakan bagian dari jaringan teroris dengan motif balas dendam.

Jakarata nggak mau kalah, dua kelompok pemuda bentrok cuma gara-gara berebut lahan "jagaan". Dua kelompok pemuda ini bisa dibilang kelompok preman dari suatu suku tertentu.

Selain itu, berita-berita baik di tv, koran, maupun digital seakan ditumpahi darah dengan kasus-kasus lainnya yang terjadi. Ada ibu yang tega menggunting urat nadi anak kandungnya sendiri, kakak membunuh adiknya, bahkan ayah kandung tega menghabisi nyawa buah hatinya sendiri.

Anyway, back to the central topic, kasus-kasus Sampang, Solo, Jakarta bisa jadi karena kurang kesigapan dan tidak adanya tindakan preventif dari aparat. Selain itu, banyaknya kepentingan dari kelompok tertentu yang memberanikan diri untuk bertindak brutal dan kriminal.

Kalo dilihat dari kasus Sampang dan Jakarta, bisa ditarik satu kesamaan garis benang merahnya, yaitu adanya isu SARA.

Indonesia emang negara yang plural dan majemuk, apalagi karakter rakyatnya yang rata-rata gampang tersulut emosi dan terprovokasi. Isu-isu yang berbau SARA jadi topik yang sensitif banget, celakanya masih ada aja orang-orang tertentu yang pake isu ini buat ngejalanin kepentingannya sendiri.

Nggak heran, terkait pemilukada di Jakarta juga rame tuh isu SARA dijadiin topik ajang kampanye buat ngejatuhin lawan. Apalagi salah satu kandidat bisa jadi lahan empuk buat ngejatuhin pasangan calon itu pake isu ini.

Tapi, kayaknya orang Jakarta udah cukup pintar buat nggak terpancing sama isu-isu tersebut. Harusnya semua masyarakat Indonesia juga gitu, nggak mau mudah terpancing dan terprovokasi apalagi sampe ngelakuin tindak kekerasan cuma karena perbedaan suku, agama, ataupun ras.

Kita hidup berdampingan dan dibutuhkan sikap-sikap toleransi dan apresiasi satu sama lain. Kenapa juga apresiasi? Maybe, I will explain on the next post.

Perbedaan yang ada bukanlah untuk diperdebatkan. Untuk pemerintah dan aparat yang berwenang sudah selayaknya bisa tetap memberikan rasa aman buat warganya. Sebuah filosofi bangsa yang lahir dari leluhur, Bhineka Tunggal Ika. Berbeda tetapi tetap satu jua.

Semoga masalah-masalah yang ada bisa dengan cepat terselesaikan. Karena bagaimanapun esensi dari manusia yang hidup bersama adalah bisa merasakan kedamaian dan kerukunan dalam kehidupannya yang beragam. Hanya emosi dan yang membuatnya terpengaruh yang dapat membuat khalaf mereka untuk menyakiti dan melukai sesama. Jangan ada lagi pembiaran atas tindakan kekerasan, yang melukai kaum yang lemah dan menciderai kaum minoritas. Hukum harus adil ditegakkan, karena bukan zamannya lagi hukum rimba diberlakukan. Sudah cukup, jangan ada lagi luka, darah, apalagi nyawa harus melayang hanya karena masalah yang harusnya bisa terselesaikan secara bijak dengan bermusyawarah. Dan yang terpenting.. tetap damai!

@marshelianto


Saturday, September 1, 2012

Kemarau Ini... Hujan Tak Kunjung Datang

Kemarau ini...

Hujan tak kunjung datang

Tak ada dirinya yang biasa hadir bersama rerintik hujan

Senyumnya kini kering kerontang

Sinar mentari membuatnya terpanggang

Berguguran geloranya

Bak dedaunan kering yang kekurangan haranya

Rapuh dari rantingnya

Tak menyapa jari jemarinya

Dirinya semakin jauh

Pergi mengayuh mengejar impian yang ingin ditempuh

Bersama rintik atau derasnya hujan

Semua ini biasa tersampaikan

Hadir tanpa raga

Keteduhannya yang terasa

Tapi... Kemarau ini

Hujan tak kunjung datang

Jua semua ini tak usah tersampaikan