Mungkin sedang ada yang salah dengan konsep jarak dan
perasaan yang biasa muncul sebagai bagian dari akibat adanya konstruk tersebut.
Rindu tak melulu hanya ada diantara berpuluh-puluh atau ratusan kilometer jarak
yang biasa kita sebut sebagai penghalang. Rindu juga dapat hadir pada lintas
jarak yang begitu dekat. Meski setia bercengkrama, dapat dengan mudah untuk digapai dan selalu berjumpa
setiap saat. Seperti ada kekosongan dalam makna sementara tawa canda haha hihi
dan ngalor ngidul obrolan hanya menjadi sebuah aktivitas pengisi hari
tak berarti lebih. Di sisi lain, rasa kecewa yang mungkin membuat kita menjaga
jarak dan dinamisnya kehidupan sehingga dapat membuat perilaku sosok tersebut
berubah menyebabkan ruang-ruang rindu yang hadir untuk berharap sosok tersebut
kembali seperti sosok yang mula kita kenal. Keahlian manusia untuk berganti ‘topeng’
membuat seolah terlihat tidak sedang terjadi ada apa-apa dan sosok-sosok dekat disekitarnya acuh tak mengira hingga kita merasa mereka ada
tapi seperti tak ada, meski dalam jarak yang dekat.
Sementara jarak yang jauh tak selalu akan memisahkan. Sosok jauh
tersebut dapat terasa begitu dekat kehadirannya, mengetahui kabar tanpa harus
bertukar kabar, sapaan hangat dapat kita rasakan, dan jika sudah begitu jarak menjadi
tak berarti. Sebab kita baru menyadari betapa berartinya seseorang dalam hidup
kita ketika jarak sudah tercipta. Seringkali keterlambatan menyadari itu
membuat kita merindu sosok-sosok yang dulu begitu dekat menjadi bagian hidup kita.
Dan sudah pasti, perjumpaan menjadi suatu hal yang sangat diharapkan. Terkadang
mereka dapat hadir tanpa disangka, menyapa meski hanya via lisan atau tulisan, memberikan
pertolongan, atau sekedar membuat perencanaan perjumpaan. Meski jauh, mereka dapat
hadir lebih dekat dibanding dengan sosok-sosok yang dekat.
Seringkali kita malu, acuh, atau enggan untuk mengakui dan
mengekspresikan betapa pentingnya arti mereka hingga kita merasa menyesal karena
akhirnya terpisahkan oleh jarak dan waktu. Sebab kelak kita hanya akan menjadi
sebuah memori di dalam hidup seseorang. Jadi, kesan apa yang kita inginkan tertanam
dalam memori orang lain tentang diri kita?
Jarak menciptakan rindu dan kerinduan melahirkan perjumpaan
yang membahagiakan. Rindu pada sosok yang dekat menjadi antitesa antara konsep
jarak dengan rindu dan sekaligus mengiyakan keutamaan sebuah kualitas jika
dibanding dengan intensitas.