Sunday, November 16, 2014

Mimpi, Cinta, dan Diri

Bagaimana kabar mimpi? Masihkah  terus dikejar dan diperjuangkan? Di saat sejumlah pikiran lain meradang mengacau, masihkah tergantung lima sentimeter di depan kening? Di era serba instan dan cepat ini, masihkah terus gigih diusahakan? Dan di saat kegagalan menggoyahkan, masihkah mereka menjadi alasan untuk kembali bangkit dan tegap berjalan?

Bagaimana kabar cinta? Masihkah ia terus dicari? Di saat kadang harapannya membuat sakit, masihkah ia disebut dalam setiap doa? Di saat yang lain menertawakan, masihkah diri ini sabar untuk menunggunya? Atau di saat kesempatan dan pilihan ada, masihkah ia tetap dinomorduakan?


Lalu, bagaimana kabar diri ini? Masihkah ada semangat yang sama, yang menggebu setiap harinya? Masihkah ada harapan dan keyakinan setiap jamnya? Masihkah ada senyuman dan hati yang jernih setiap menitnya? Dan masihkah diri ini bersyukur atas nikmat dan karunia di setiap detik yang diberikan oleh-Nya?

Friday, November 7, 2014

JARAK DAN RINDU

Mungkin sedang ada yang salah dengan konsep jarak dan perasaan yang biasa muncul sebagai bagian dari akibat adanya konstruk tersebut. Rindu tak melulu hanya ada diantara berpuluh-puluh atau ratusan kilometer jarak yang biasa kita sebut sebagai penghalang. Rindu juga dapat hadir pada lintas jarak yang begitu dekat. Meski setia bercengkrama, dapat  dengan mudah untuk digapai dan selalu berjumpa setiap saat. Seperti ada kekosongan dalam makna sementara tawa canda haha hihi dan ngalor ngidul obrolan hanya menjadi sebuah aktivitas pengisi hari tak berarti lebih. Di sisi lain, rasa kecewa yang mungkin membuat kita menjaga jarak dan dinamisnya kehidupan sehingga dapat membuat perilaku sosok tersebut berubah menyebabkan ruang-ruang rindu yang hadir untuk berharap sosok tersebut kembali seperti sosok yang mula kita kenal. Keahlian manusia untuk berganti ‘topeng’ membuat seolah terlihat tidak sedang terjadi ada apa-apa dan sosok-sosok dekat disekitarnya acuh tak mengira hingga kita merasa mereka ada tapi seperti tak ada, meski dalam jarak yang dekat.

Sementara jarak yang jauh tak selalu akan memisahkan. Sosok jauh tersebut dapat terasa begitu dekat kehadirannya, mengetahui kabar tanpa harus bertukar kabar, sapaan hangat dapat kita rasakan, dan jika sudah begitu jarak menjadi tak berarti. Sebab kita baru menyadari betapa berartinya seseorang dalam hidup kita ketika jarak sudah tercipta. Seringkali keterlambatan menyadari itu membuat kita merindu sosok-sosok yang dulu begitu dekat menjadi bagian hidup kita. Dan sudah pasti, perjumpaan menjadi suatu hal yang sangat diharapkan. Terkadang mereka dapat hadir tanpa disangka, menyapa meski hanya via lisan atau tulisan, memberikan pertolongan, atau sekedar membuat perencanaan perjumpaan. Meski jauh, mereka dapat hadir lebih dekat dibanding dengan sosok-sosok yang dekat.

Seringkali kita malu, acuh, atau enggan untuk mengakui dan mengekspresikan betapa pentingnya arti mereka hingga kita merasa menyesal karena akhirnya terpisahkan oleh jarak dan waktu. Sebab kelak kita hanya akan menjadi sebuah memori di dalam hidup seseorang. Jadi, kesan apa yang kita inginkan tertanam dalam memori orang lain tentang diri kita?


Jarak menciptakan rindu dan kerinduan melahirkan perjumpaan yang membahagiakan. Rindu pada sosok yang dekat menjadi antitesa antara konsep jarak dengan rindu dan sekaligus mengiyakan keutamaan sebuah kualitas jika dibanding dengan intensitas.

Friday, June 13, 2014

Sang Penghibur

Sang penghibur
Tetap menghibur walau sempat tersungkur
Di dalam benaknya ada rimbunan tanda tanya
Meski tak pernah luruhkan senyumnya

Ingin sang penghibur melalak
Saat lelah
Gelisah menggoyah arah
Hati tak beraturan
Rindu yang bertepuk sebelah tangan
Dan Pengorbanan yang terasa percuma

Namun sang penghibur tetap tegap
Berdiri di atas panggungnya
Melihat dari kejauhan
Senyum Sang Terlipur

Meski Ia tak selalu melihat arah panggung
Kadang lebih asyik dengan kanan kiri dan sekitarnya
Alihkan pandangan...
Bahkan lupakan kalau Sang Pengibur berdiri siap menghibur

Hadirnya Terlipur istimewa melambungkan hatinya
Walau esok mungkin ia belum tentu hadir
Dan lambungan itu siap-siap untuk kembali terhempas
Sang Penghibur tak berdaya
Tak mampu memaksanya slalu duduk menyaksikan
Ada di depan untuk menjadi Terlipur Istimewanya

Jika sudah begitu Sang Penghibur hanya menjadi pengamat dan pendengar
Mengamati apa yang ia lakukan dan mendengar apa yang sedang ia rasakan

Sang Penghibur pun enggan menerka-nerka
Menjadi penasaran dan membuka kembali kotak harapan yang pernah ia beri
Meski hanya kuasa menyampaikan lewat tawa
Percayalah, Sang Penghibur turut senang jika melihat Terlipur Istimewanya bahagia

Thursday, June 12, 2014

Beda

Sebab tiap-tiap orang berbeda

Maka itu saya siap kecewa

Karena semua tak bisa dipaksa

Seperti apa yang saya pinta


Sebab tiap-tiap orang berbeda

Maka itu saya harus mengalah

Karena semua tak slalu seiring seirama

Hadapi bagaimana harap berubah lelah


Sebab tiap-tiap orang berbeda

Maka itu saya banyak memahami

Mempelajari lalu menahan ego diri

Senyum yang jadi tameng sesaknya dada


Mengapa tiap-tiap orang berbeda

Jika kadang beda membersitkan lara

Beda yang membuat kita terpenjara

Hingga kau bertanya pada dunia

Dan akhirnya kembali merindukan yang sama


Monday, April 7, 2014

Hanya Saja Aku yang Terlalu Mundur Jauh Kebelakang

Senja hari ini jingga keemasan
Pelangi  keluar dari persembunyian
Tanah terbasuh tetesan hujan
Nada -nada mengalun mengharmonisasi perasaan

Selepas gerimis senja tadi...
Ada rasa takut akan hari esok
Ada cemas yang menyegerakan berpulang
Ada penat yang mengganggu
Ada tanya akan sekitar
Ada gelisah menanti kabar
Dari seminggu yang tak bertukar kabar
Ada rindu yang beradu
Dari setengah windu yang tak bertemu

Larut dalam melankoli senja pembuka malam
Tanpa kuasa...
Hanya saja aku yang terlalu mundur jauh kebelakang

Saturday, March 22, 2014

Surga itu, Rumah.

Ada tempat yang selalu akan kita tuju setelah berjalan ribuan langkah atau ratusan ribu kilometer. Tempat yang mungkin akan kita rindu meski tlah merantau gugusan pulau. Siapa pun atau setinggi dan sehebat apapun. Tempat yang mungkin tak seindah tempat-tempat diluar sana. Tempat yang seringkali orang bosan berada di dalamnya. Tapi tempat ini begitu syahdu akan segala memoarnya. Ini kisah tentang sebuah tempat dan sebuah rindu untuk bersegera pulang.

Rumah saya tak seluas rumah kalian. Luasnya dapat dihitung hanya dengan jengkal dan dijelajahi dengan bereberapa langkah saja. Berhimpitan dengan rumah sebelah kiri kanan, layaknya perumahan di kota-kota padat. Dindingnya tak sekokoh dinding beton. Tak ada pepohonan di halaman depan atau belakang. Rumah saya panas. Catnya pun hampir pudar. Di balik itu semua, ada sentuhan kasih sayang tulus antara seisi penghuni rumah. Kehangatan terasa karena cinta yang terjalin. Lelah karena menjalankan aktivitas terbayar saat menginjakkan kaki, memasuki ruangannya dan melihat tatapan sambuatan penuh hangat Ibu, Bapak, atau Adik. Diskusi singkat dan gurauan kecil di depan tv pencair suasana. Segala cerita berbeda menjadi seirama. Tempat rehat dari segala kehiruk-pikukan hari. Seisi penghuninya, pelipur lara dan penggugah semangat diri.


Bagi saya rumah merupakan tempat paling nyaman diantara tempat-tempat lain yang menawarkan kenyamanan. Tempat meluruhkan lelah, tempat mengadu saat dalam masalah. Saya merasa aman berlindung dibawah atapnya. Tempat saya menjadi apa adanya dan tempat yang bisa menerima saya apa adanya. Tak ada pandangan sebelah mata atau ucapan pengacau telinga. Tempat saya diajarkan cinta, tempat saya berbagi cerita. Begitu damai, begitu setia. Tidak heran banyak orang diluar sana yang rela berjuang bertahan dalam kemacetan hanya untuk pulang, bercengkrama dengan sanak keluarga sekedar beristirahat menghilangkan penat. Di rumah, saya mulai merangkai mimpi-mimpi dan mengikrarkan lapisan tekad untuk mewujudkannya. Tempat merajut asa kembali untuk bangkit dari suatu kegagalan. Sebuah saksi hidup. Menjadi saksi bisu yang setiap sudut ruangannya menceritakan kisah-kisah perjalanan. Saya tertawa, saya haru, saya marah, saya belajar, saya bercerita, saya menghabiskan waktu saya dan saya melewati hidup saya, disini.


Rumah, tempat kita berpulang di dunia. Tak ada salahnya kita menjadikannya ‘surga’ bagi diri dan hidup kita sendiri. Sebelum kita akan benar-benar berpulang ke surga yang sebenarnya.

Saturday, March 8, 2014

Jam Dinding

Bulat tiga ratus enam puluh derajat
Tergantung menempel di dinding bercat
Pukul dua belas tepat
Dalam ruangan hening hikmat

Jam dinding
Yang menunjuk dan mengingatkan
Meski hidupnya perlu bantuan

Bergerak meski tak akan pernah mampu berlari
Maka detik berikutnya adalah misteri
Berputar meski tak akan pernah mundur ke belakang
Maka menit yang tlah lalu hanyalah untuk dikenang

Puja puji kepada Ia yang menggerakkan
Milyaran denting jarumnya menunjukkan waktu
yang akan terus berputar
Waktu dimana aku berdiri hingga kini
Mengenang menit yang tlah lalu
Dan bertanya akan detik berikutnya

Thursday, February 27, 2014

Antara Fajar dan Senja, Kau Lebih Suka Mana?

Kenapa mereka lebih menyukai senja, sementara fajar lebih memberi ketenangan dan pengharapan?

Fajar. Hidup setiap manusia dimulai dari sini. Sunyinya menyentuh kalbu di antara sujud-sujud khusyuk mereka yang mulai terjaga dari lelapnya. Tetesan embun di dedaunan, nyanyian burung berkicau dan kokokan ayam jantan saling bersautan membentuk sebuah harmonisasi pertanda harap para pejuang asa. Gurau-gurau kecil di sudut meja makan memberi keriangan sebelum menapakkan langkah pertama keluar pintu untuk mengawali hari. Sapaan sana sini kepada sekitar bagai menambah dukungan kesiapan untuk menyambut misterinya hari. Saat inilah semua harapan bisa dipenuhi. Gelap berganti sinar hangat sang mentari. Sunyi suasana berganti hiruk pikuk penuh ambisi. Bintang dan bulan kembali ke peraduan. Jiwa-jiwa yang hilang asanya kembali tergugah mewujdukan harapan. Semesta pun mendukung, semangat bergejolak timbul dari dalam diri para pejuang mimpi.

Senja. Warna jingga kemerahan memberi kehangatan bagi jiwa yang riuh rendah mengikuti geliatnya hari. Titik tenggelamnya surya jelas kilaunya di ufuk barat cakrawala sana. Sosok-sosok perindu menikmati saatnya. Mereka berbondong-bondong mencari spot terbaik untuk menyaksikan detik-detik pelepasan itu. Bersama riak gulungan ombak atau tinggi tonggak pencakar langit. Seakan tak rela sinarnya sirna menjadi temaram. Senja nan syahdu mampu menentramkan raga-raga yang tlah berderu pelu memperjuangkan mimpinya sepanjang hari. Mereka bergerak menuju tempat yang sama, tempat pengaduan keluh dan pengahapus kesah. Tempat mereka mengawali pagi sebelumnya. Lembayung mega nan romantis membuat sepasang insan penuh cinta berdiri dibawahnya, mengabadikannya, dan mungkin pula mengikat janji dengan disaksikan cahayanya.


Fajar dan senja. Keduanya memiliki kesamaan, keduanya merupakan waktu peralihan yang jika diresapi adalah waktu yang tepat untuk merangkai segala mimpi dan merenungi pencapaiannya. Meski keduanya hadir setiap hari, namun munculnya hanya sebentar. Sementara esok masih misteri, maka banyak jiwa-jiwa yang hadir merindunya. Antara fajar dan senja, kau lebih suka mana?

Saturday, February 1, 2014

Surat terbuka ini saya tujukan bagi Anda...

Untuk Anda yang mengaku lebih paham mengenai urusan hati, salut saya apada awalnya ketika Anda dengan besar hati mengungkapakan dan ingin mengorbankan perasaan yang Anda miliki. Tapi seiring bergulirnya waktu, secepat itu pula Anda mengubah pikiran serta kata-kata heroik yang pernah Anda ucapkan mulai tak senada dengan kenyataan yang Anda lakukan. Mungkin Anda lupa kalau cinta tumbuh karena biasa, ada proses pendekatan namanya saat sepasang insan memulai hubungan. Pada saat inilah dua individu yang tak saling kenal menjadi kenal dan mengubah rasa yang tadinya tak ada menjadi ada. Entah Anda lupa atau saking pahamnya Anda, hingga tanpa lagi menghiraukan proses tersebut keinginan Anda akan dengan mudah terwujud. Yang terpenting bagi Anda mungkin mengungkapkan. Hingga tak peduli berapa kali Anda mengungkapkan. Dan tak peduli perasaan siapa yang anda main-mainkan.

Untuk Anda yang mengaku lebih paham mengenai urusan hati hingga meminta percayakan semuanya pada Anda, pasti Anda sudahlah sangat teramat paham kalau kepercayaan itu mahal harganya, kan? Tetapi mungkin bagi Anda yang sudah lebih paham, mudah saja untuk mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Begitu mudahnya hingga sering kali Anda berujar pada suatu waktu dan beberapa saat kemudian Anda sendiri yang melanggarnya.

Untuk Anda yang mengaku lebih paham mengenai urusan hati, maaf jika saya memilih diam dan mendiamkan. Inilah keputusan yang saya ambil saat kata-kata sudah banyak dikeluarkan dan tak menyelesaikan. Bagi Anda kata “Tidak” saja tidak cukup, penjelasan panjang lebar pun masih kurang untuk menghadapi kenyataan yang ada. Saya sebenarnya hanya lelah. Lelah karena harus terus-menerus dan berulang-ulang membahas hal yang sama, yang sudah sama-sama saling tahu jawabannya. Lelah telah memberikan kepercayaan kepada Anda yang menganggap enteng janji-janji dan perkataan yang diucapkan. Ya, tapi Anda melakukan semua itu kan karena memang sudah lebih paham mengenai urusan hati, jadi saya mungkin harus mafhum adanya.

Tetapi sedalam apapun Anda paham mengenai urusan hati, sudah hukum alam jika setiap hal yang kita lakukan memiliki konsekuensi yang mengiringinya. Dan dengan rendah hati jika boleh saya mengingatkan, tak akan baik jikalah kita memaksakan sesuatu dan bahwa kepercayaan yang diberikan orang lain tak semudah yang anda pikirkan. Semua bisa berdalih kita hanyalah manusia, tetapi yang jelas seseorang baru bisa dikatakan belajar jika adanya perubahan perilaku yang terlihat didirinya. Dan sekarang saya hanya mengharapkan yang terbaik bagi Anda, yang mengaku lebih paham mengenai urusan hati.