Friday, June 13, 2014

Sang Penghibur

Sang penghibur
Tetap menghibur walau sempat tersungkur
Di dalam benaknya ada rimbunan tanda tanya
Meski tak pernah luruhkan senyumnya

Ingin sang penghibur melalak
Saat lelah
Gelisah menggoyah arah
Hati tak beraturan
Rindu yang bertepuk sebelah tangan
Dan Pengorbanan yang terasa percuma

Namun sang penghibur tetap tegap
Berdiri di atas panggungnya
Melihat dari kejauhan
Senyum Sang Terlipur

Meski Ia tak selalu melihat arah panggung
Kadang lebih asyik dengan kanan kiri dan sekitarnya
Alihkan pandangan...
Bahkan lupakan kalau Sang Pengibur berdiri siap menghibur

Hadirnya Terlipur istimewa melambungkan hatinya
Walau esok mungkin ia belum tentu hadir
Dan lambungan itu siap-siap untuk kembali terhempas
Sang Penghibur tak berdaya
Tak mampu memaksanya slalu duduk menyaksikan
Ada di depan untuk menjadi Terlipur Istimewanya

Jika sudah begitu Sang Penghibur hanya menjadi pengamat dan pendengar
Mengamati apa yang ia lakukan dan mendengar apa yang sedang ia rasakan

Sang Penghibur pun enggan menerka-nerka
Menjadi penasaran dan membuka kembali kotak harapan yang pernah ia beri
Meski hanya kuasa menyampaikan lewat tawa
Percayalah, Sang Penghibur turut senang jika melihat Terlipur Istimewanya bahagia

Thursday, June 12, 2014

Beda

Sebab tiap-tiap orang berbeda

Maka itu saya siap kecewa

Karena semua tak bisa dipaksa

Seperti apa yang saya pinta


Sebab tiap-tiap orang berbeda

Maka itu saya harus mengalah

Karena semua tak slalu seiring seirama

Hadapi bagaimana harap berubah lelah


Sebab tiap-tiap orang berbeda

Maka itu saya banyak memahami

Mempelajari lalu menahan ego diri

Senyum yang jadi tameng sesaknya dada


Mengapa tiap-tiap orang berbeda

Jika kadang beda membersitkan lara

Beda yang membuat kita terpenjara

Hingga kau bertanya pada dunia

Dan akhirnya kembali merindukan yang sama