Sang penghibur
Tetap menghibur walau sempat tersungkur
Di dalam benaknya ada rimbunan tanda tanya
Meski tak pernah luruhkan senyumnya
Ingin sang penghibur melalak
Saat lelah
Gelisah menggoyah arah
Hati tak beraturan
Rindu yang bertepuk sebelah tangan
Dan Pengorbanan yang terasa percuma
Namun sang penghibur tetap tegap
Berdiri di atas panggungnya
Melihat dari kejauhan
Senyum Sang Terlipur
Meski Ia tak selalu melihat arah panggung
Kadang lebih asyik dengan kanan kiri dan sekitarnya
Alihkan pandangan...
Bahkan lupakan kalau Sang Pengibur berdiri siap menghibur
Hadirnya Terlipur istimewa melambungkan hatinya
Walau esok mungkin ia belum tentu hadir
Dan lambungan itu siap-siap untuk kembali terhempas
Sang Penghibur tak berdaya
Tak mampu memaksanya slalu duduk menyaksikan
Ada di depan untuk menjadi Terlipur Istimewanya
Jika sudah begitu Sang Penghibur hanya menjadi pengamat dan
pendengar
Mengamati apa yang ia lakukan dan mendengar apa yang sedang ia
rasakan
Sang Penghibur pun enggan menerka-nerka
Menjadi penasaran dan membuka kembali kotak harapan yang pernah ia beri
Meski hanya kuasa menyampaikan lewat tawa
Percayalah, Sang Penghibur turut senang jika melihat Terlipur
Istimewanya bahagia