Tuesday, November 15, 2011

Antara Saya dan Busway



Transjakarta atau umum disebut Busway adalah sebuah sistem transportasi massal di Jakarta,Indonesia. Sistem ini dimodelkan berdasarkan sistem TransMilenio yang sukses di Bogota, Kolombia. Mulai beroperasi sejak 15 januari 2004, busway menjadi salah satu program andalan pemprov Jakarta untuk mengatasi kemacetan di Ibukota. Namun,nampaknya belum menjadi solusi untuk mengatasi kemacetan yang semakin parah di Jakarta. Busway masih memiliki banyak permasalahan hingga saat ini, seperti waktu kedatangan bus yang unpredictable sehingga membuat antrian yang panjang di setiap halte, fasilitas-fasilitas yang sudah tidak layak atau rusak, kecelakaan yang kerap terjadi hingga kasus pelecehan seksual yang terjadi di dalam bus. Terlepas dari segala permasalahannya, namun sepertinya busway tetap menjadi kendaraan umum favorit untuk sebagian masyarakat Jakarta, dan mungkin termasuk saya.

Saya mulai sering menggunakan Busway sejak SMA, saat itu saya rutin naik dari shelter pulogadung-pasar genjing. Saking seringnya, saat kelas X saya dijuluki "sopir busway" oleh teman-teman karena begitu hafalnya dengan rute yang ada di transjakarta. Kebiasaan  menggunakan transportasi tersebut berlanjut hingga saat ini, saya tetap rutin menggunakan busway untuk menuju kampus yang berada di daerah ciputat. Saya naik dari pulogadung, lalu transit di harmoni, setelah itu harus lanjut ke arah lebak bulus. Belum berhenti, dari lebak bulus saya masih harus naik angkot untuk sampai di kampus. Beberapa teman mengatakan saya 'gila' atau 'tua dijalan' karena begitu tahannya saya menghabiskan waktu di jalan sejauh dan selama itu.

Perjalanan yang jauh dan melelahkan memang, tetapi saya coba mengatur "mindset" saya sehingga perjalanan yang menghabiskan waktu 2 jam atau bahkan hingga 4 jam jika Jakarta sedang hujan deras dan pohon tumbang itu menjadi perjalanan yang mengasyikkan. Hitung-hitung ini bisa dijadikan sebagai sebuah bentuk pengorbanan saya dalam menggapai masa depan. Saya bisa bertemu banyak orang, mulai dari para eksekutif muda yang selalu sibuk berkejaran dengan waktu, rombongan keluarga yang ingin berlibur ke Monas atau Ancol,hingga rombongan mas-mas berwajaaaah... maaf, agak katro,  membawa tas besar dan kardus yang nampaknya baru pulang dari kampung. Tentunya juga, mencari yang enak dilihat untuk dijadikan bahan "cuci mata". Di busway saya bisa melihat kesibukan ibukota, dari halte harmoni yang pada malam hari saat hari kerja berubah menjadi lautan manusia. Saya juga bisa melihat adanya persaingan yang seru, persaingan dalam memperebutkan tempat duduk. Di busway saya juga bisa melihat keramahan khas orang Indonesia ketika ada seseorang yang rela memberikan tempat duduknya untuk ibu hamil,yang membawa anak, atau para lansia. Begitulah Transjakarta, kadang dibenci tapi masih tetap dibutuhkan. Pada akhirnya, kadang saya berpikir sampai kapan rutinitas saya yang ini akan berakhir? akankah selama saya kuliah akan terus menggunakan busway? atau mungkin berlanjut hingga saya kerja nanti? dan  mungkin saja saya akan menulis skripsi yang ada hubungannya dengan busway? atau... apakah saya akan menemukan jodoh juga di busway? Hmm.. Who Knows.

No comments:

Post a Comment