Bulat tiga ratus enam puluh derajat
Tergantung menempel di dinding bercat
Pukul dua belas tepat
Dalam ruangan hening hikmat
Jam dinding
Yang menunjuk dan mengingatkan
Meski hidupnya perlu bantuan
Bergerak meski tak akan pernah mampu berlari
Maka detik berikutnya adalah misteri
Berputar meski tak akan pernah mundur ke belakang
Maka menit yang tlah lalu hanyalah untuk dikenang
Puja puji kepada Ia yang menggerakkan
Milyaran denting jarumnya menunjukkan waktu
yang akan terus berputar
Waktu dimana aku berdiri hingga kini
Mengenang menit yang tlah lalu
Dan bertanya akan detik berikutnya
No comments:
Post a Comment