Saturday, November 5, 2016

4 HARI 3 MALAM DI MALAYSIA DAN SINGAPURA



Sekitar dua bulan lalu saya melakukan perjalanan "nekat" ke Singapura dan Malaysia. Kenapa nekat? Karena keputusan diambil dalam waktu singkat, tanpa pikir panjang apakah waktunya bisa atau apakah ada dananya. Apalagi saya belum punya paspor pada saat itu. Ya, itu merupakan perjalanan luar negeri saya pertama kalinya. Pengalaman pertama selalu memberi bekas dihati, seperti cinta pertama yang masih sering membayangi, eeaaa.. Dan akhirnya saya berhasil mengumpulkan niat yang kuat untuk berbagi cerita seputar pengalaman nekat yang berkesan waktu itu.


28 Agustus 2016
Kebetulan kita hampir kehabisan tiket pada saat memesan, yang  tersisa tinggal Bandung-Johor Bahru-Bandung. Jadilah pada pagi hari itu saya berangkat menuju Bandung menggunakan Travel. Janji sama teman ketemu di Bandara Husein Sastranegara. Teman saya ini memang sudah menetap bekerja di Bandung. Berangkat sekitar jam 7 dari Jakarta sampai bandara jam 11.30 padahal boarding jam 12.15. Panik! Ini pengalaman pertama saya naik maskapai yang kata orang “Kopaja Terbang” itu hahaha nggak tau kenapa tapi benar aja take off-nya nggak mulus, lumayan bikin kepala saya dan teman saya pusing. Dua jam kurang akhirnya kami tiba di Bandara Senai, Johor Bahru atau yang biasa disingkat JB (bukan Justin Bieber ya). Bandaranya nggak terlalu besar dan nggak ramai, mengingatkan saya seperti bandara El Tari, Kupang. Begitu mendarat disini udah ada masalah aja! Karena lebih memilih mengisi perut yang kosong terlebih dahulu, akhirnya kita harus masuk kantor imigrasi bandara karena counter pengecekan imigrasi sudah tutup. Petugasnya sok galak, nada bicaranya tinggi dan membentak, lumayan bikin kita jiper sih (btw tau kan jiper apa? Hehe)..

Setelah akhirnya paspor dicap, kita langsung menuju Singapura via JB Sentral. Dari bandara Senai naik bus Causeway Link yang harganya 8 Ringgit menuju JB Sentral. Sampai JB Sentral agak sedikit bingung karena tempatnya yang luas banget. Maklum semua terkoneksi disini, terminal, stasiun, imigrasi sampai mal. Antrian masyarakat yang ingin keluar dari Johor menuju Singapura juga rame banget. Selesai pengecekan paspor kita segera menuju tempat pemberhentian bus untuk menunggu bus Causeway Link. Ada tiga rute bus yang biasa disingkat CW ini untuk menuju Singapura, CW1 yang menuju Kranji MRT Station, CW2 menuju Queen Street Terminal, dan CW5 menuju Jurong. Kita memutuskan naik CW2 yang menuju Queen Street atas pertimbangan lokasi penginapan kita yang sudah dekat jaraknya dari Queen Street. Kita naik bus, bayar ongkos sebesar 2,4 Ringgit didalam bus, dan dapat tiketnya. Pastikan tiket bus jangan sampai hilang, karena akan dipakai lagi saat naik bus berikutnya menuju lokasi akhir setelah dari checkpoint Singapore woodland. Jarak JB Sentral - Woodland Checkpoint sekitar 30 menit waktu itu, mungkin bisa lebih cepat tapi pada sore itu lumayan macet, padahal tinggal nyebrang jembatan. Tiba di Woodlands Checkpoint, kita harus turun bus dan pastikan bawa semua barang, karena bus yang akan kita naikin lagi akan berbeda dengan sebelumnya, tapi rute dan tujuan yang sama. Setelah sampai di antrian imigrasi, kita lupa mengisi formulir kedatangan, alhasil keluar antrian dan segera mengisi formulirnya. Balik antri lagi, namun sedang sial atau entah kenapa, saya yang antri lebih dulu di counter imigrasi ketika baru saja paspor saya dicek,petugas memastikan wajah saya sama atau tidak seperti yang ada di paspor, kemudian petugas itu menanyakan apakah ini kunjungan saya yang pertama, dengan cepat langsung saya jawab iya, lalu dengan cepat pula petugas itu meminta saya untuk menunggu petugas yang lain datang untuk mengantarkan saya ke ruangan imigrasi. Paspor saya pun ditahan. Hingga akhirnya selama dua jam saya berurusan dengan imigrasi Woodlands, dari mulai menunggu, masuk keruangan, diinterogasi, isi dompet dan handphone juga dicek hingga akhirnya paspor saya dikembalikan dan diizinkan melanjutkan perjalanan. Untungnya saya tidak sendiri, teman saya pun bernasib sama, kita berdua ditahan di imigrasi Singapura selama dua jam hahaha... lebih jelasnya mungkin akan saya ceritakan di tulisan berikutnya.


Selesai urusan imigrasi waktu sudah menunjukkan jam 9 malam, kita bergegas untuk menunggu bus CW2, busnya yang kita naikin ini berbeda dengan yang sebelumnya tapi tetap dengan tujuan yang sama. Tiba di Queen Street menghabiskan waktu sekitar 45 menit, kita segera menuju penginapan. Kita memutuskan untuk menginap semalam di Footprints Hostel, hostel termurah di Singapura dan merupakan penginapan favorit para backpacker. Memesannya sudah sejak sebelum berangkat. Harganya sekitar 18 Singapore Dollar. Lokasinya ada di Little India, stasiun MRT terdekat adalah Rochor Station. Kamar kita berbentuk dorm dengan lima buah ranjang susun yang terisi penuh oleh 10 orang pada saat itu, termasuk saya dan teman saya. Kita memutuskan untuk menyewa kamar yang jenis mixed dorm, jadilah kita tidur sekamar dengan para backpacker dari beberapa penjuru dunia, baik laki-laki maupun perempuan. Tapi kamar mandi tetap terpisah kok hehe...

Sampai Footprints sudah hampir jam 11 malam. Jika sesuai itinerary, ada tiga tempat yang bisa kita kunjungi malam itu, namun akibat tertahan dua jam di Imigrasi itinerary pun jadi kacau. Apalagi badan kita merasa sudah cukup lelah saat itu ditambah perut yang lapar. Tapi, memang dasar nggak mau rugi waktu, ya tetap aja kita keluar malam itu juga untuk menuju Mustafa Center, pusat oleh-oleh serba ada yang buka 24 nonstop tanpa tidur. Kita banyak ketemu orang Indonesia disini dan kita juga menukar USD kita ke SGD disini. Keliling-keliling, pilih-pilih, dan lihat-lihat membuat benar-benar lelah sampai kita terduduk di lantai. Padahal itu pun belum semua bagian gedung kita jelajahi. Yang tadinya lapar tapi kita tidak sanggup makan lagi karena mungkin sudah pusing melihat kerumunan orang. Jam 1 lewat kami pun kembali ke penginapan untuk beristirahat.




 
29 Agustus 2016
Sepakat untuk bangun jam 6 pagi, kita bergegas mandi dan beres-beres, karena pada pagi itu kita juga harus check out. Belum jalan-jalan tapi kok udah check out hehe.. Untungnya Footprints ini memperbolehkan bagi tamunya yang ingin menitipkan barang bawaanya selama 24 jam meskipun sudah check out, jadi hati pun senang karena tidak perlu menggendong-gendong tas yang berat saat keliling Singapura hari itu. Selesai free breakfast di Footprints denga menu bread toast, cereal dan susu kita segera jalan. Tujuan pertama kita adalah Merlion Park, dari Stasiun Rochor kita naik MRT menuju stasiun terdekat dari Merlion. Sebelumnya kita juga membeli Ez-Link Card untuk memudahkan selama menggunakan moda MRT, meskipun kita menyesal setelah membeli kartu tersebut. Puas foto-foto di Merlion dan sekitarnya, kita lanjut menuju Orchard Road. Jalan di sepanjang trotoar jalannya aja udah cukup nyaman kok dan pastinya tidak lupa mencari spot-spot yang pas untuk foto. Puas disana kita melanjutkan perjalanan menggunakan MRT menuju Harbourfront atau Vivo City untuk menuju Sentosa Island. Sebelumnya kita makan dulu, di semacam food court gitu, kita cari-cari menu yang nggak biasa. Konsep di beberapa stasiun MRT itu dibuat langsung terkoneksi dengan mal atau pusat perbelanjaan. Bagus sih, meski saya agak tidak setuju dengan konsepnya hehe..

Selesai makan siang, kita keluar dari Vivo City untuk menyebrang jembatan menuju Sentosa Island. Ada beberapa alternatif untuk menuju Sentosa, yaitu jalan kaki melalui  Sentosa Boardwalk, naik bis RWS8, naik monorail sentosa express dan naik cable car. Jelas kita pilih cara yang paling murah, nggak masalah walau harus jalan kaki, Sentosa Boardwalk, jalan kayu sepanjang kurang dari setengah kilometer melintas diatas laut, pemandangan lautnya lumayan bagus terus kita juga bisa menggunakan travellator atau tangga jalan datar. Namanya juga liburan murah ya, selama di Sentosa kita cuma keliling aja tanpa memasuki semua wahana hiburan disana.  Cuma foto di depan bola dunia Universal Studio, patung Merlion kedua, dan tempat lainnya. Bahkan kita sempat mengisi botol minum yang kita bawa dari Jakarta dengan air dari keran yang langsung bisa di minum disini. Sementara baliknya kita naik monorail gratis kembali menuju Vivo City. Berikutnya kita menghabiskan sore hari di pinggir sungai sambil duduk-duduk di Clarke Quay dan Masjid Sultan di Bugis untuk melaksanakan ibadah yang dari tadi kita gabung-gabungkan hehe..


Setelah Masjid Sultan kita kembali menuju Footprints untuk mengambil barang bawaan kita yang sudah sharian dititipkan. Duduk istirahat sebentar sambil nge-charge handphone lalu lanjut jalan. Sebelum itu kita kembali mengisi botol minum dengan air keran Footprints. That’s why I brought my tumbler. Karena lumayan juga kalau harus beli air mineral, apalagi buat saya si manusia ikan yang sering banget minum air putih. Hehehe..

Keluar dari footprints kita menuju Queen Street untuk menunggu bus CW menuju JB sekitar jam 6 sore. Disini hal yang nggak terduga terjadi, bus belum datang tapi antriannya udah mengular cukup panjang. Mungkin kalau di Indonesia penumpangnya udah ngamuk kali ya karena bus nggak dateng-dateng. Kita  merasa cemas karena mengejar waktu untuk menuju Kuala Lumpur malam itu. Kita sih sepakat untuk naik bus dari Terminal Larkin menuju KL dengan keberangkatan paling  malam, tapi yang kita takutkan adalah transportasi dari JB Sentral menuju Terminal Larkin. Di Johor Bahru transportasi umumnya agak sulit, cuma ada di jam-jam tertentu dan nggak sampai malam. Belum lagi kalaukemungkinan terburuk kita harus kembali tertahan di Imigrasi yang tentu akan menambah lama waktu. Akhirnya kita yang cemas menunggu bus di Queen Street mencari cara lain. Alternatif yang kita pilih adalah naik MRT menuju Kranji Station lalu naik bus CW1 dengan rute Kranji-Terminal Larkin. Akhirnya alternatif yang kita pilih tepat dan berhasil melewati imigrasi dengan lancar tanpa masalah. 

Terminal Larkin mungkin seperti Terminal Pulogadung atau Kampung Rambutan yang ternyata ada juga calonya. Disana kita diikuti calo yang agak setengah maksa buat beli tiket di dia. Setelah kita ngobrol dengan pramusaji di tempat kita makan malam di Larkin, memang sudah umumnya begitu untuk beli tiket di orang-orang yang menawarkan tersebut –sebut saja calo. Harga bus Larkin-KL saat kita cek di internet 33 ringgit namun yang dijual di calo harganya 35 ringgit. Nggak mau ribbet lagi kita putuskan untuk beli tiket tersebut seharga 35 ringgit dengan keberangkatan jam 12 malam.

30 Agustus 2016
Dini hari tanggal 31 Agustus kita habiskan di jalan, untuk menghemat biaya penginapan kita tidur di bus sepanjang perjalanan JB-KL. Bus baru jalan jam 1 pagi untuk kemudian tiba di Terminal Berpadu Selatan jam 6 pagi. Segera kita bergegas untuk “mandi” di terminal yang berada di Bandar Tasik Selatan tersebut. Selesai “mandi” dan ganti pakaian kita segera menuju tujuan pertama di KL, yaitu Menara Petronas. Sebelumnya kita membeli tiket bus untuk tujuan Malaka terlebih dahulu. Di Malaysia kita memutuskan untuk mengunjungi kota Malaka, selain Kuala Lumpur dan Johor Bahru. Untuk menuju Petronas kita menggunakan MRT dari TBS, karena hari itu hari senin suasana MRT dipenuhi dengan warga Malaysia yang ingin melakukan aktivitasnya seperti sekolah atau bekerja. Sementara kita malah ingin jalan-jalan *evil laugh.. Di Petronas kita foto-foto dengan suasana KL pagi hari. Puas dari sana kita melanjutkan perjalanan untuk menuju Batu Caves, sebelumya kita sarapan di stasiun MRT KLCC. Lagu-lagu dari artis Indonesia, seperti Afgan, Rossa, dan Nidji banyak diperdengarkan di beberapa stasiun MRT, termasuk di KLCC. Selesai mengunjungi Batu Caves kita kembali  TBS untuk segera menuju Malaka. Perjalanan ke Malaka sekitar 2-3 jam. Jam 12 kami berangkat tiba disana jam 3 sore. 


Saat di Malaka kita hanya memiliki waktu 3-4 jam karena jam 8.30 kita sudah memesan tiket untuk kembali menuju Johor. Salah satu tips yang kita ikuti adalah segera membeli tiket perjalanan berikutnya begitu tiba di terminal  tempat yang baru saja kita kunjungi. Malaka kota yang menarik, perpaduan arsitektur kolonial portugis dan Tionghoa membuat Malaka menjadi kota yang terakulturasi dengan baik. Banyak wisatawan yang kesana ingin berwisata sejarah. Yang lebih menyenangkan semua tempat wisata tersebut bisa dikunjungi hanya dengan jalan kaki. Kuliner disini juga cukup menarik, kita sempat membeli Ice Cream Egg yang segar banget, makan Laksa Baba dan Es Cendol Durian. Namun, hampir serupa dengan Johor, sistem transportasi disini masih kurang. Masyarakat Malaka lebih banyak memilih menggunakan taksi atau mobil pribadi. Satu hari di Malaysia kita bagi dua tempat, enam jam di Kuala Lumpur dan enam jam di Malaka. Sedangkan untuk sisanya kita kembali menuju Johor Bahru.


31 Agustus 2016
Tiba di Terminal Larkin sekitar jam 11 malam lalu sedikit penghiburan dengan makan malam Big Mac di McD.  Di sini kita menginap satu malam di Double K Hostel karena harus kembali ke Bandung jam 10:55.  Lokasi hostelnya dekat dengan Terminal Larkin, masih dengan tipe kamar yang sama namun tidak diperbolehkan ada mixed dorm. “Apalagi awak belum kawin, hah?” Tips selanjutnya yang kita ikuti adalah memesan tempat penginapan jauh-jauh hari, seperti Double K dan Footprints yang sudah kita pesan sebelum berangkat. Baru check-in sekitar jam 12 malam dan check-out jam 7 pagi. Pada malam itu saya tidak bisa tidur, mungkin karena itu malam liburan terakhir kita. Paginya kita harus mengejar bus yang berangkat jam 8 pagi, karena bus berikutnya akan ada lagi jam 10. Kalau terlewat saja itu berarti alternatif lainnya adalah taxi, sementara taxi jadi musuh kita saat itu. Sempat lari-larian di pagi hari Johor yang hujan kala itu. Kata teman saya Johor itu ibarat Bekasi, kota industri yang dekat dengan ibukota. Akhirnya kita berhasil mendapatkan bus dari Terminal Larkin menuju Senai Airport. Tiba disana sekitar jam 9 lewat, lalu kita menyempatkan belanja di salah satu toko di bandara. Hingga tepat pada waktunya kita kembali menuju Indonesia, menuju Jakarta dan Bandung, kembali ke dalam realita.
Total selama empat hari tiga malam dua negara empat kota, menghabiskan biaya sekitar kurang dari 3 juta. Sudah termasuk biaya tiket PP dan pembuatan paspor. Biaya itu sesuai dengan perkiraan awal kita, mungkin hanya lebih sedikit karena di Bandara Senai sebelum pulang kita khilaf hingga berkali-berkali menukarkan uang ke money changer. Saya pun melanggar sumpah saya yang tidak akan menukarkan uang tunai rupiah yang saya bawa hehehe... Namun, yang tidak dapat dihitung adalah pengalaman yang sudah kita dapatkan, yang membuat rasa “candu” itu ada. Jadi, kapan liburan lagi?

No comments:

Post a Comment