Sekitar dua bulan lalu saya
melakukan perjalanan "nekat" ke Singapura dan Malaysia. Kenapa nekat?
Karena keputusan diambil dalam waktu singkat, tanpa pikir panjang apakah
waktunya bisa atau apakah ada dananya. Apalagi saya belum punya paspor pada
saat itu. Ya, itu merupakan perjalanan luar negeri saya pertama kalinya.
Pengalaman pertama selalu memberi bekas dihati, seperti cinta pertama yang masih
sering membayangi, eeaaa.. Dan akhirnya saya berhasil mengumpulkan niat yang
kuat untuk berbagi cerita seputar pengalaman nekat yang berkesan waktu itu.
28
Agustus 2016
Kebetulan
kita hampir kehabisan tiket pada saat memesan, yang tersisa tinggal Bandung-Johor Bahru-Bandung. Jadilah
pada pagi hari itu saya berangkat menuju Bandung menggunakan Travel. Janji sama teman ketemu di Bandara Husein Sastranegara. Teman saya ini memang sudah
menetap bekerja di Bandung. Berangkat sekitar jam 7 dari Jakarta sampai bandara
jam 11.30 padahal boarding jam 12.15. Panik! Ini pengalaman pertama saya naik
maskapai yang kata orang “Kopaja Terbang” itu hahaha nggak tau kenapa tapi benar
aja take off-nya nggak mulus, lumayan bikin kepala saya dan teman saya pusing. Dua jam
kurang akhirnya kami tiba di Bandara Senai, Johor Bahru atau yang biasa
disingkat JB (bukan Justin Bieber ya). Bandaranya nggak terlalu besar dan nggak
ramai, mengingatkan saya seperti bandara El Tari, Kupang. Begitu mendarat
disini udah ada masalah aja! Karena lebih memilih mengisi perut yang kosong
terlebih dahulu, akhirnya kita harus masuk kantor imigrasi bandara karena
counter pengecekan imigrasi sudah tutup. Petugasnya sok galak, nada bicaranya
tinggi dan membentak, lumayan bikin kita jiper sih (btw tau kan jiper apa? Hehe)..
Setelah
akhirnya paspor dicap, kita langsung menuju Singapura via JB Sentral. Dari
bandara Senai naik bus Causeway Link yang harganya 8 Ringgit menuju JB Sentral.
Sampai JB Sentral agak sedikit bingung karena tempatnya yang luas banget.
Maklum semua terkoneksi disini, terminal, stasiun, imigrasi sampai mal. Antrian
masyarakat yang ingin keluar dari Johor menuju Singapura juga rame banget. Selesai
pengecekan paspor kita segera menuju tempat pemberhentian bus untuk menunggu
bus Causeway Link. Ada tiga rute bus yang biasa disingkat CW ini untuk menuju
Singapura, CW1 yang menuju Kranji MRT
Station, CW2 menuju Queen Street
Terminal, dan CW5 menuju Jurong. Kita memutuskan naik CW2 yang menuju Queen
Street atas pertimbangan lokasi penginapan kita yang sudah dekat jaraknya dari
Queen Street. Kita naik bus, bayar ongkos sebesar 2,4 Ringgit didalam bus, dan
dapat tiketnya. Pastikan tiket bus jangan sampai hilang, karena akan dipakai
lagi saat naik bus berikutnya menuju lokasi akhir setelah dari checkpoint
Singapore woodland. Jarak JB Sentral - Woodland Checkpoint sekitar 30 menit
waktu itu, mungkin bisa lebih cepat tapi pada sore itu lumayan macet, padahal
tinggal nyebrang jembatan. Tiba di Woodlands Checkpoint, kita harus turun bus
dan pastikan bawa semua barang, karena bus yang akan kita naikin lagi akan
berbeda dengan sebelumnya, tapi rute dan tujuan yang sama. Setelah sampai di
antrian imigrasi, kita lupa mengisi formulir kedatangan, alhasil keluar antrian
dan segera mengisi formulirnya. Balik antri lagi, namun sedang sial atau entah
kenapa, saya yang antri lebih dulu di counter imigrasi ketika baru saja paspor
saya dicek,petugas memastikan wajah saya sama atau tidak seperti yang ada di
paspor, kemudian petugas itu menanyakan apakah ini kunjungan saya yang pertama,
dengan cepat langsung saya jawab iya, lalu dengan cepat pula petugas itu
meminta saya untuk menunggu petugas yang lain datang untuk mengantarkan saya ke
ruangan imigrasi. Paspor saya pun ditahan. Hingga akhirnya selama dua jam saya
berurusan dengan imigrasi Woodlands, dari mulai menunggu, masuk keruangan,
diinterogasi, isi dompet dan handphone juga dicek hingga akhirnya paspor saya
dikembalikan dan diizinkan melanjutkan perjalanan. Untungnya saya tidak
sendiri, teman saya pun bernasib sama, kita berdua ditahan di imigrasi
Singapura selama dua jam hahaha... lebih jelasnya mungkin akan saya ceritakan
di tulisan berikutnya.
Selesai
urusan imigrasi waktu sudah menunjukkan jam 9 malam, kita bergegas untuk
menunggu bus CW2, busnya yang kita naikin ini berbeda dengan yang sebelumnya
tapi tetap dengan tujuan yang sama. Tiba di Queen Street menghabiskan waktu
sekitar 45 menit, kita segera menuju penginapan. Kita memutuskan untuk menginap
semalam di Footprints Hostel, hostel termurah di Singapura dan merupakan
penginapan favorit para backpacker. Memesannya
sudah sejak sebelum berangkat. Harganya sekitar 18 Singapore Dollar. Lokasinya ada di Little India, stasiun MRT
terdekat adalah Rochor Station. Kamar
kita berbentuk dorm dengan lima
buah ranjang susun yang terisi penuh oleh 10 orang pada saat itu, termasuk saya
dan teman saya. Kita memutuskan untuk menyewa kamar yang jenis mixed dorm, jadilah kita tidur sekamar
dengan para backpacker dari beberapa penjuru dunia, baik laki-laki maupun
perempuan. Tapi kamar mandi tetap terpisah kok hehe...
Sampai
Footprints sudah hampir jam 11 malam. Jika sesuai itinerary, ada tiga tempat yang bisa kita kunjungi malam itu, namun
akibat tertahan dua jam di Imigrasi itinerary
pun jadi kacau. Apalagi badan kita merasa sudah cukup lelah saat itu ditambah
perut yang lapar. Tapi, memang dasar nggak mau rugi waktu, ya tetap aja kita
keluar malam itu juga untuk menuju Mustafa Center, pusat oleh-oleh serba ada
yang buka 24 nonstop tanpa tidur. Kita banyak ketemu orang Indonesia disini dan
kita juga menukar USD kita ke SGD disini. Keliling-keliling, pilih-pilih, dan
lihat-lihat membuat benar-benar lelah sampai kita terduduk di lantai. Padahal itu
pun belum semua bagian gedung kita jelajahi. Yang tadinya lapar tapi kita tidak
sanggup makan lagi karena mungkin sudah pusing melihat kerumunan orang. Jam 1
lewat kami pun kembali ke penginapan untuk beristirahat.
29
Agustus 2016
Sepakat
untuk bangun jam 6 pagi, kita bergegas mandi dan beres-beres, karena pada pagi
itu kita juga harus check out. Belum
jalan-jalan tapi kok udah check out hehe..
Untungnya Footprints ini memperbolehkan bagi tamunya yang ingin menitipkan
barang bawaanya selama 24 jam meskipun sudah check out, jadi hati pun senang karena tidak perlu
menggendong-gendong tas yang berat saat keliling Singapura hari itu. Selesai free breakfast di Footprints denga menu bread toast, cereal dan susu kita segera
jalan. Tujuan pertama kita adalah Merlion Park, dari Stasiun Rochor kita naik
MRT menuju stasiun terdekat dari Merlion. Sebelumnya kita juga membeli Ez-Link
Card untuk
memudahkan selama menggunakan moda MRT, meskipun kita menyesal setelah membeli
kartu tersebut. Puas foto-foto di Merlion dan sekitarnya, kita lanjut menuju
Orchard Road. Jalan di sepanjang trotoar jalannya aja udah cukup nyaman kok dan
pastinya tidak lupa mencari spot-spot yang pas untuk foto. Puas disana kita
melanjutkan perjalanan menggunakan MRT menuju Harbourfront atau Vivo
City untuk menuju Sentosa Island. Sebelumnya kita makan dulu, di semacam food
court gitu, kita cari-cari menu yang nggak biasa. Konsep di beberapa stasiun
MRT itu dibuat langsung terkoneksi dengan mal atau pusat perbelanjaan. Bagus sih,
meski saya agak tidak setuju dengan konsepnya hehe..
Selesai
makan siang, kita keluar dari Vivo City untuk menyebrang jembatan menuju Sentosa
Island. Ada beberapa alternatif untuk menuju Sentosa, yaitu jalan kaki
melalui Sentosa Boardwalk, naik bis
RWS8, naik monorail sentosa express dan naik cable car. Jelas kita pilih cara
yang paling murah, nggak masalah walau harus jalan kaki, Sentosa Boardwalk, jalan
kayu sepanjang kurang dari setengah kilometer melintas diatas laut, pemandangan
lautnya lumayan bagus terus kita juga bisa menggunakan travellator atau tangga
jalan datar. Namanya juga liburan murah ya, selama di Sentosa kita cuma keliling
aja tanpa memasuki semua wahana hiburan disana. Cuma foto di depan bola dunia Universal
Studio, patung Merlion kedua, dan tempat lainnya. Bahkan kita sempat mengisi
botol minum yang kita bawa dari Jakarta dengan air dari keran yang langsung
bisa di minum disini. Sementara baliknya kita naik monorail gratis kembali
menuju Vivo City. Berikutnya kita menghabiskan sore hari di pinggir sungai
sambil duduk-duduk di Clarke Quay dan Masjid Sultan di Bugis untuk melaksanakan
ibadah yang dari tadi kita gabung-gabungkan hehe..
Setelah
Masjid Sultan kita kembali menuju Footprints untuk mengambil barang bawaan kita
yang sudah sharian dititipkan. Duduk istirahat sebentar sambil nge-charge handphone lalu lanjut jalan. Sebelum
itu kita kembali mengisi botol minum dengan air keran Footprints. That’s why I
brought my tumbler. Karena lumayan juga kalau harus beli air mineral, apalagi
buat saya si manusia ikan yang sering banget minum air putih. Hehehe..
Keluar
dari footprints kita menuju Queen Street untuk menunggu bus CW menuju JB
sekitar jam 6 sore. Disini hal yang nggak terduga terjadi, bus belum datang
tapi antriannya udah mengular cukup panjang. Mungkin kalau di Indonesia
penumpangnya udah ngamuk kali ya karena bus nggak dateng-dateng. Kita merasa cemas karena mengejar waktu untuk
menuju Kuala Lumpur malam itu. Kita sih sepakat untuk naik bus dari Terminal
Larkin menuju KL dengan keberangkatan paling
malam, tapi yang kita takutkan adalah transportasi dari JB Sentral
menuju Terminal Larkin. Di Johor Bahru transportasi umumnya agak sulit, cuma
ada di jam-jam tertentu dan nggak sampai malam. Belum lagi kalaukemungkinan
terburuk kita harus kembali tertahan di Imigrasi yang tentu akan menambah lama
waktu. Akhirnya kita yang cemas menunggu bus di Queen Street mencari cara lain.
Alternatif yang kita pilih adalah naik MRT menuju Kranji Station lalu naik bus
CW1 dengan rute Kranji-Terminal Larkin. Akhirnya alternatif yang kita pilih
tepat dan berhasil melewati imigrasi dengan lancar tanpa masalah.
Terminal
Larkin mungkin seperti Terminal Pulogadung atau Kampung Rambutan yang ternyata
ada juga calonya. Disana kita diikuti calo yang agak setengah maksa buat beli
tiket di dia. Setelah kita ngobrol dengan pramusaji di tempat kita makan malam
di Larkin, memang sudah umumnya begitu untuk beli tiket di orang-orang yang
menawarkan tersebut –sebut saja calo. Harga bus Larkin-KL saat kita cek di
internet 33 ringgit namun yang dijual di calo harganya 35 ringgit. Nggak mau
ribbet lagi kita putuskan untuk beli tiket tersebut seharga 35 ringgit dengan
keberangkatan jam 12 malam.
30
Agustus 2016
Dini
hari tanggal 31 Agustus kita habiskan di jalan, untuk menghemat biaya penginapan
kita tidur di bus sepanjang perjalanan JB-KL. Bus baru jalan jam 1 pagi untuk
kemudian tiba di Terminal Berpadu Selatan jam 6 pagi. Segera kita bergegas untuk
“mandi” di terminal yang berada di Bandar Tasik Selatan tersebut. Selesai “mandi”
dan ganti pakaian kita segera menuju tujuan pertama di KL, yaitu Menara
Petronas. Sebelumnya kita membeli tiket bus untuk tujuan Malaka terlebih
dahulu. Di Malaysia kita memutuskan untuk mengunjungi kota Malaka, selain Kuala
Lumpur dan Johor Bahru. Untuk menuju Petronas kita menggunakan MRT dari TBS,
karena hari itu hari senin suasana MRT dipenuhi dengan warga Malaysia yang
ingin melakukan aktivitasnya seperti sekolah atau bekerja. Sementara kita malah
ingin jalan-jalan *evil laugh.. Di Petronas kita foto-foto dengan suasana KL
pagi hari. Puas dari sana kita melanjutkan perjalanan untuk menuju Batu Caves,
sebelumya kita sarapan di stasiun MRT KLCC. Lagu-lagu dari artis Indonesia,
seperti Afgan, Rossa, dan Nidji banyak diperdengarkan di beberapa stasiun MRT,
termasuk di KLCC. Selesai mengunjungi Batu Caves kita kembali TBS untuk segera menuju Malaka. Perjalanan ke
Malaka sekitar 2-3 jam. Jam 12 kami berangkat tiba disana jam 3 sore.
Saat
di Malaka kita hanya memiliki waktu 3-4 jam karena jam 8.30 kita sudah memesan
tiket untuk kembali menuju Johor. Salah satu tips yang kita ikuti adalah segera
membeli tiket perjalanan berikutnya begitu tiba di terminal tempat yang baru saja kita kunjungi. Malaka
kota yang menarik, perpaduan arsitektur kolonial portugis dan Tionghoa membuat
Malaka menjadi kota yang terakulturasi dengan baik. Banyak wisatawan yang
kesana ingin berwisata sejarah. Yang lebih menyenangkan semua tempat wisata
tersebut bisa dikunjungi hanya dengan jalan kaki. Kuliner disini juga cukup
menarik, kita sempat membeli Ice Cream Egg yang segar banget, makan Laksa Baba dan
Es Cendol Durian. Namun, hampir serupa dengan Johor, sistem transportasi disini
masih kurang. Masyarakat Malaka lebih banyak memilih menggunakan taksi atau
mobil pribadi. Satu
hari di Malaysia kita bagi dua tempat, enam jam di Kuala Lumpur dan enam jam di
Malaka. Sedangkan untuk sisanya kita kembali menuju Johor Bahru.
31 Agustus 2016
Tiba
di Terminal Larkin sekitar jam 11 malam lalu sedikit penghiburan dengan makan
malam Big Mac di McD. Di sini kita
menginap satu malam di Double K Hostel karena harus kembali ke Bandung jam 10:55.
Lokasi hostelnya dekat dengan Terminal
Larkin, masih dengan tipe kamar yang sama namun tidak diperbolehkan ada mixed dorm. “Apalagi awak belum kawin, hah?”
Tips selanjutnya yang kita ikuti adalah memesan tempat penginapan jauh-jauh
hari, seperti Double K dan Footprints yang sudah kita pesan sebelum berangkat.
Baru check-in sekitar jam 12 malam
dan check-out jam 7 pagi. Pada malam
itu saya tidak bisa tidur, mungkin karena itu malam liburan terakhir kita. Paginya
kita harus mengejar bus yang berangkat jam 8 pagi, karena bus berikutnya akan
ada lagi jam 10. Kalau terlewat saja itu berarti alternatif lainnya adalah
taxi, sementara taxi jadi musuh kita saat itu. Sempat lari-larian di pagi hari
Johor yang hujan kala itu. Kata teman saya Johor itu ibarat Bekasi, kota
industri yang dekat dengan ibukota. Akhirnya kita berhasil mendapatkan bus dari
Terminal Larkin menuju Senai Airport. Tiba disana sekitar jam 9 lewat, lalu
kita menyempatkan belanja di salah satu toko di bandara. Hingga tepat pada
waktunya kita kembali menuju Indonesia, menuju Jakarta dan Bandung, kembali ke
dalam realita.
Total
selama empat hari tiga malam dua negara empat kota, menghabiskan biaya sekitar kurang dari 3 juta.
Sudah termasuk biaya tiket PP dan pembuatan paspor. Biaya itu sesuai dengan
perkiraan awal kita, mungkin hanya lebih sedikit karena di Bandara Senai sebelum
pulang kita khilaf hingga berkali-berkali menukarkan uang ke money changer. Saya pun melanggar sumpah
saya yang tidak akan menukarkan uang tunai rupiah yang saya bawa hehehe...
Namun, yang tidak dapat dihitung adalah pengalaman yang sudah kita dapatkan, yang
membuat rasa “candu” itu ada. Jadi, kapan liburan lagi?




No comments:
Post a Comment