Sunday, December 23, 2012

IDEAL(IS)ME


“Sok suci banget lo. Kalo mau jadi suci, belajar agama aja sana.. belajar tasawuf

Pernyataan tersebut diucapkan seorang teman kepada saya saat  menyampaikan ketidaksetujuan dan penolakan saya terhadap aksi demonstrasi bayaran. Bermula dari sebuah obrolan ringan di perjalanan menuju perpustaakaan, awalnya ia menceritakan tentang dirinya yang ditawari ikut turun ke jalan terkait aksi simpati untuk Palestina beberapa waktu lalu. Berikutnya ia menceritakan secara santai seputar fakta dari fenomena ‘demonstrasi bayaran’ yang kerap terjadi.

Kalo yang ini mah ga dapet ongkos, soalnya aksi simpati jadi kan sukarela. Biasanya kalo demo gitu suka dapet bayaran, buat uang transport atau uang makan, kayak waktu demo BBM tuh

Demonstrasi bayaran atau aksi demonstrasi yang sudah tidak benar-benar memiliki tujuan murni karena sudah disusupi oleh pihak-pihak yang memanfaatkan tenaga orang lain untuk agenda-agenda terselubung, memang sudah bukan rahasia lagi. Jika melakukan demonstrasi tetapi dibayar oleh pihak-pihak tertentu itu tandanya tujuannya sudah tidak untuk membela kepentingan rakyat lagi. Entah memang bertujuan untuk mencari untung, hanya sekedar ikut-ikutan, ataukah sudah mengikisnya nilai idealisme para mahasiswa. Saya sendiri tidak tahu sejak kapan fenomena semacam ini mulai terjadi. Tetapi, sudah barang tentu tidak semua demonstrasi ditunggangi seperti ini, masih ada yang memang melakukannya dengan tujuan yang sungguh-sungguh.

Satu hal yang menarik dari masalah ini, yakni idealisme. Sebuah kata penuh kekuatan arti yang selama ini dipandang oleh masyarakat dimiliki oleh  mahasiswa. Nilai dan harapan diberikan mereka kepada the agent of change untuk memiliki kepekaan dan rasa kritis terhadap lingkungan sosial pemerintahan di negaranya.

Ini bukan soal suci atau tidaknya kita, melainkan ini merupakan soal apa yang kita ributkan selama ini, menuntut keadilan dan kesejahteraan kepada pemerintah serta  mengutuk sistem yang korup dan kotor disekitar kita. Sementara jika menilik sifat kodrati manusia biasa yang memang tidak ada seorangpun yang sempurna serta terdapat banyak tingkatan dan indikator yang harus dilalui jika memang ingin menjadi suci. Lantas sadarkah  jika kita terseret dalam sistem yang dapat menyebabkan kebobrokan negara kita tercinta ini. Haruskah menunggu menjadi suci dan sempurna untuk menegakkan sebuah kebenaran dan menolak segala macam kecurangan? Cukuplah memberikan kerugian hanya untuk diri sendiri tanpa harus membawa kerugian untuk orang banyak. Dimulai dari diri sendiri, diam jika memang enggan menyuarakan, menahan diri jika memang tidak ingin terseret dalam sebuah kenyataan sistem yang buruk.

Masih terngiang di ingatan, betapa heroiknya aksi yang dilakukan para mahasiswa dan aktifis saat berhasil menduduki gedung dewan di senayan untuk menuntut reformasi pada tahun 1998. Mereka berhasil memberikan perubahan bagi negeri, melukiskan segaris tinta coretan yang akan selalu dikenang dalam sejarah bangsa yang sudah merdeka 67 tahun ini. Mereka benar-benar membela, menuntut dan berjuang hanya untuk satu tujuan membawa kepentingan bangsa ini ke arah yang lebih baik dengan daya critical thingking dan rasa nasionalis serta idealis yang mereka miliki. Namun, jika sekarang para agen perubahan yang seharusnya membela tanpa pamrih, rela ditunggangi oleh pihak-pihak tertentu yang memanfatkan momentum, apakah itu tanda dari nilai-nilai idealis para kaum terpelajar sudah memudar?

Idealisme sama halnya dengan prinsip, sebuah pegangan atau patok-patok yang dipercayai di dalam menjalani kehidupan. Idealisme sendiri memang seringkali dihadapkan oleh realitas dalam kehidupan. Ibarat air sungai yang tawar dan jernih, idealisme dianut mengalir mengikuti arus kehidupan. Sementara, realitas di ibaratkan sebagai air laut yang asin dan jika antara air sungai yang tawar itu bertemu dengan air laut yang asin terbentuklah air payau, yang tidak tawar dan juga tidak asin. Jika kita terlau banyak meminumnya, tentunya tetap juga tidak sehat. Begitulah hubungan idelisme dan realitas. Ideliasme dianut untuk terus diuji oleh berbagai tantangan realitas kehidupan yang bisa melenakan siapa saja. Disitulah titik pentingnya, pengujian rasa idealisme untuk menentukan apakah kita masih tetap konsisten memegang teguh prinsip yang kita anut atau tidak.

Ada baiknya idealisme memang harus tetap realistis dan dinamis sesuai perkembangan zaman, namun nilai-nilai kebenaran yang sudah diinternalisasikan janganlah sampai tergoyah ikut bersama zaman yang penuh dengan sistem dan praktik kecurangan. Jangan sampai kita berteriak terlalu jauh, tetapi diri kita sendiri yang dekat  tidak mendengar. Terlalu bersuara lantang, tetapi suara itu tak terdengar kedalam hati kita. Saya memang tidak vokal dan belum pernah berteriak menyuarakan hingga turun ke jalan seperti mereka, tetapi saya mencoba tetap menanamkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran didalam sendiri terlebih dahulu. Saya tetap menghargai mereka.

No comments:

Post a Comment