“Sok suci banget lo. Kalo mau jadi
suci, belajar agama aja sana.. belajar tasawuf”
Pernyataan tersebut
diucapkan seorang teman kepada saya saat menyampaikan ketidaksetujuan dan penolakan
saya terhadap aksi demonstrasi bayaran. Bermula dari sebuah obrolan ringan di perjalanan
menuju perpustaakaan, awalnya ia menceritakan tentang dirinya yang ditawari ikut
turun ke jalan terkait aksi simpati untuk Palestina beberapa waktu lalu. Berikutnya
ia menceritakan secara santai seputar fakta dari fenomena ‘demonstrasi bayaran’
yang kerap terjadi.
“Kalo yang ini mah ga dapet ongkos,
soalnya aksi simpati jadi kan sukarela. Biasanya kalo demo gitu suka dapet bayaran,
buat uang transport atau uang makan, kayak waktu demo BBM tuh”
Demonstrasi
bayaran atau aksi demonstrasi yang sudah tidak benar-benar memiliki tujuan
murni karena sudah disusupi oleh pihak-pihak yang memanfaatkan tenaga orang
lain untuk agenda-agenda terselubung, memang sudah bukan rahasia lagi. Jika
melakukan demonstrasi tetapi dibayar oleh pihak-pihak tertentu itu tandanya
tujuannya sudah tidak untuk membela kepentingan rakyat lagi. Entah memang
bertujuan untuk mencari untung, hanya sekedar ikut-ikutan, ataukah sudah
mengikisnya nilai idealisme para mahasiswa. Saya sendiri tidak tahu sejak kapan
fenomena semacam ini mulai terjadi. Tetapi, sudah barang tentu tidak semua
demonstrasi ditunggangi seperti ini, masih ada yang memang melakukannya dengan
tujuan yang sungguh-sungguh.
Satu hal yang
menarik dari masalah ini, yakni idealisme. Sebuah kata penuh kekuatan arti yang
selama ini dipandang oleh masyarakat dimiliki oleh mahasiswa. Nilai dan harapan diberikan mereka
kepada the agent of change untuk memiliki kepekaan dan rasa kritis terhadap lingkungan
sosial pemerintahan di negaranya.
Ini bukan soal
suci atau tidaknya kita, melainkan ini merupakan soal apa yang kita ributkan
selama ini, menuntut keadilan dan kesejahteraan kepada pemerintah serta mengutuk sistem yang korup dan kotor
disekitar kita. Sementara jika menilik sifat kodrati manusia biasa yang memang
tidak ada seorangpun yang sempurna serta terdapat banyak tingkatan dan
indikator yang harus dilalui jika memang ingin menjadi suci. Lantas sadarkah jika kita terseret dalam sistem yang dapat
menyebabkan kebobrokan negara kita tercinta ini. Haruskah menunggu menjadi suci
dan sempurna untuk menegakkan sebuah kebenaran dan menolak segala macam
kecurangan? Cukuplah memberikan kerugian hanya untuk diri sendiri tanpa harus
membawa kerugian untuk orang banyak. Dimulai dari diri sendiri, diam jika
memang enggan menyuarakan, menahan diri jika memang tidak ingin terseret dalam
sebuah kenyataan sistem yang buruk.
Masih terngiang
di ingatan, betapa heroiknya aksi yang dilakukan para mahasiswa dan aktifis
saat berhasil menduduki gedung dewan di senayan untuk menuntut reformasi pada
tahun 1998. Mereka berhasil memberikan perubahan bagi negeri, melukiskan
segaris tinta coretan yang akan selalu dikenang dalam sejarah bangsa yang sudah
merdeka 67 tahun ini. Mereka benar-benar membela, menuntut dan berjuang hanya
untuk satu tujuan membawa kepentingan bangsa ini ke arah yang lebih baik dengan
daya critical thingking dan rasa nasionalis serta idealis yang mereka miliki.
Namun, jika sekarang para agen perubahan yang seharusnya membela tanpa pamrih,
rela ditunggangi oleh pihak-pihak tertentu yang memanfatkan momentum, apakah
itu tanda dari nilai-nilai idealis para kaum terpelajar sudah memudar?
Idealisme sama
halnya dengan prinsip, sebuah pegangan atau patok-patok yang dipercayai di
dalam menjalani kehidupan. Idealisme sendiri memang seringkali dihadapkan oleh
realitas dalam kehidupan. Ibarat air sungai yang tawar dan jernih, idealisme
dianut mengalir mengikuti arus kehidupan. Sementara, realitas di ibaratkan
sebagai air laut yang asin dan jika antara air sungai yang tawar itu bertemu
dengan air laut yang asin terbentuklah air payau, yang tidak tawar dan juga
tidak asin. Jika kita terlau banyak meminumnya, tentunya tetap juga tidak
sehat. Begitulah hubungan idelisme dan realitas. Ideliasme dianut untuk terus
diuji oleh berbagai tantangan realitas kehidupan yang bisa melenakan siapa
saja. Disitulah titik pentingnya, pengujian rasa idealisme untuk menentukan
apakah kita masih tetap konsisten memegang teguh prinsip yang kita anut atau
tidak.
Ada baiknya
idealisme memang harus tetap realistis dan dinamis sesuai perkembangan zaman, namun nilai-nilai
kebenaran yang sudah diinternalisasikan janganlah sampai tergoyah ikut bersama
zaman yang penuh dengan sistem dan praktik kecurangan. Jangan sampai kita
berteriak terlalu jauh, tetapi diri kita sendiri yang dekat tidak mendengar. Terlalu bersuara lantang,
tetapi suara itu tak terdengar kedalam hati kita. Saya memang tidak vokal dan
belum pernah berteriak menyuarakan hingga turun ke jalan seperti mereka, tetapi
saya mencoba tetap menanamkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran didalam
sendiri terlebih dahulu. Saya tetap menghargai mereka.
No comments:
Post a Comment