Sunday, December 23, 2012

KEMBALI KE DESA

Petang, di tengah padatnya jalanan ibukota.


Bersama ratusan kendaraan lain yang tengah merayap dan jutaan orang yang melawan rasa bosan dan stressor-stressor pengganggu pikiran untuk sama-sama menuju satu tujuan.. rumah.

Bagi warga jakarta pastilah sudah merasa akrab dengan kondisi seperti ini. Menghabiskan waktu berjam-jam saat berangkat memulai aktivitas di pagi hari dan pulang diwaktu sore. Belum lagi saat hujan lebat, genangan air yang menyumbat dan pohon yang tumbang memperparah lalu lintas ibukota.

Gubernur silih berganti, namun masalah ini belum bisa teratasi. Berbagai solusi dicanangkan, namun hingga sekarang belum terselesaikan. Jumlah penduduk yang tidak sesuai dengan luas wilayah, jumlah kendaraan yang tidak sesaui dengan luas jalanannya, masih buruknya sistem transportasi publik dan sistem drainase menjadi beberapa penyebab. Tapi ada satu hal yang paling penting, yaitu kedisiplinan warga Jakarta yang dirasa masih rendah. Bisa dikatakan, kita bisa melihat ketidakdisiplinan dan keegoisan warga jakarta ya dijalanannya. Jadi, kapan macet di ibukota ini akan selesai?

Bayangkan betapa stressnya warga jakarta jika harus selalu berada dalam kemacaten setiap harinya. Anehnya, entah kenapa pula masih banyak warga dari daerah yang berdatangan untuk mencari nafkah ke  kota yang dulunya bernama Batavia ini? Magnet apa yang tetap menarik mereka untuk memutuskan tinggal di ibukota dan membiarkan desanya sepi tak berpenghuni? Padahal jakarta tidak semanis dan seindah yang dibayangkan, bahkan ada yang mengatakan, Jakarta keras, Bung!

Jika warga dari daerah berbondong-bondong mengadu nasib di jakarta, lalu bagaimana nasib desa-desa asal yang mereka tinggalkan?

Saya bermimpi suatu saat dapat menghabiskan hidup di pelosok desa nusantara. Jauh dari hiruk pikuk keramaian kota metropolitan, kesibukan dan hedonitas orang kota dan pemandangan hutan beton yang menjulang tinggi seperti jakarta. Saya ingin memiliki rumah dengan pemandangan sekeliling pepohonan atau permadani hijau yang menyejukkan suasana hati. Berinteraksi dengan burung-burung yang bertebangan serta kabut dan embun yang menetes di pagi hari. Hidup tenang, nyaman, dan damai tanpa harus tertekan oleh kemacetan.

Jika warga desa mulai meninggalkan profesi mereka sebagai petani, saya justru ingin menjadi seorang petani yang memiliki sawah luas, berkebun, atau beternak hewan. Di saat negeri ini harus mengimpor beras, gandum, kedelai bahkan hewan sapi dari negara lain. Di saat sudah seharusnya ada pemerataan pembangunan yang harus dilakukan pemerintah agar kota tidak semakin padat dan desa tidak menjadi sepi ditinggal anak mudanya. Saya bemimipi menghidupkan kembali desa dan memiliki kehidupan yang lebih baik serta berhasil di tanah air, Indonesia.

No comments:

Post a Comment